digtara.com - Setiap jemaah haji, termasuk petugas pasti punya cerita atau pengalaman spritual saat menjalankan tugas dan ibadah selama di tanah suci. Salah satunya dialami oleh Pelaksana Transportasi PPIH Arab Saudi 2026 Daerah Kerja Bandara, Aip Saiful.Disela kesibukannya mengatur mobilisasi jemaah selama puncak haji, tepatnya saat wukuf Arafah. Ia mengaku tak mampu membendung air mata saat berada di Arafah.
"Arafah bagi saya adalah mahsyar kecil. Di sana saya sangat banyak menitikkan air mata," kata Aip saat menceritakan pengalaman spritual pribadinya kepada tim Media Center Haji (MCH) di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, Jumat (12/06/2026).
Sebagai petugas transportasi, Aip bertanggung jawab mengatur pergerakan jemaah dari bandara menuju hotel, serta mengawal proses kedatangan dan pemulangan jemaah.
Saat puncak haji, tugasnya bertambah berat karena harus memastikan proses pemberangkatan jemaah dari Arafah menuju Muzdalifah dan Mina berjalan lancar.
Di tengah suhu yang mencapai lebih dari 40 derajat Celsius, ia mengaku harus bekerja tanpa henti membantu menaikkan jemaah ke armada bus.
"Saya membantu memberangkatkan sekitar tujuh kloter. Karena personel terbatas, kami bekerja sekuat tenaga. Saya sampai menghabiskan satu krat minuman karena panas yang luar biasa," ujarnya.
Baca Juga: Tugas Belum Selesai, Inspektorat Kemenhaj Minta Petugas Terus Layani Jemaah Sampai Tuntas
Namun bukan kelelahan fisik yang paling membekas dalam ingatannya.
Usai seluruh tugas selesai, Aip sempat berada seorang diri di dalam bus.
Pada momen itulah perasaan yang selama ini tertahan seakan tumpah begitu saja.
"Saya merunduk di kursi bus dan menangis sejadi-jadinya seperti anak kecil," kenangnya.
Menurutnya, Arafah menghadirkan pengalaman batin yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ia merasa seolah dihadapkan pada seluruh perjalanan hidupnya, termasuk kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan kepada orang lain.
"Di Arafah saya hanya bisa berkata dalam hati, 'Ya Allah, saya capek jauh dari-Mu'," tuturnya.
Kalimat sederhana itu justru menjadi refleksi terdalam selama bertugas di Tanah Suci.
Ia mengaku banyak bermuhasabah selama berada di Arafah. Bahkan, salah satu peristiwa yang membuatnya merenung adalah ketika celana yang dikenakannya tiba-tiba robek saat bertugas. Meski terdengar sepele, kejadian itu menjadi pengingat baginya untuk lebih banyak melakukan introspeksi diri.
Tak hanya itu, Aip juga teringat kepada seorang mahasiswa yang pernah ia uji dalam sidang skripsi. Saat berada di Arafah, ia langsung menghubungi mahasiswa tersebut untuk meminta maaf karena khawatir pernah menyakiti perasaannya.
"Saya takut pernah melukai orang lain tanpa saya sadari. Maka saya langsung menelepon dan meminta maaf," ujarnya.
Baca Juga: MHG Jelaskan Nama-nama Bersejarah Kota Madinah dan Tempat Utama yang Perlu Diketahui Jemaah Haji Bagi Aip, Arafah bukan sekadar tempat berkumpulnya jutaan manusia untuk berdoa. Lebih dari itu, Arafah menjadi ruang perenungan yang membuat seseorang melihat kembali dirinya secara jujur.
Ia mengaku pulang dari Arafah dengan perasaan berbeda dibanding saat datang.
"Saya merasa menjadi orang yang baru. Ada banyak hikmah yang saya dapatkan di sana. Mudah-mudahan pengalaman itu menjadikan saya pribadi yang lebih baik," katanya.
Di balik hiruk-pikuk pelayanan haji yang penuh tantangan, kisah Aip menjadi pengingat bahwa para petugas bukan hanya bekerja melayani jemaah, tetapi juga menjalani perjalanan spiritual mereka sendiri di Tanah Suci. (San).