digtara.com - Ketua Musyrif Diny Haji Indonesia 2026, KH Cholil Nafis, mengapresiasi pelaksanaan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi yang dinilainya berjalan lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian, ia menilai masih terdapat sejumlah aspek yang perlu ditingkatkan untuk memberikan pelayanan yang lebih optimal kepada jemaah.Hal itu disampaikan KH Cholil Nafis di Jeddah, Arab Saudi, beberapa waktu lalu, saat melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan ibadah haji tahun ini.
Menurutnya, berbagai perbaikan yang dilakukan pemerintah Arab Saudi dan penyelenggara haji telah memberikan dampak positif terhadap kenyamanan jemaah. Salah satu hal yang diapresiasi adalah tetap difasilitasinya pelaksanaan Arbain di Madinah bagi jemaah haji Indonesia.
"Arbain merupakan salah satu bentuk kecintaan umat Islam kepada Rasulullah SAW. Karena itu, kebijakan yang tetap memberikan ruang bagi jemaah untuk melaksanakannya patut diapresiasi," ujarnya.
Meski demikian, KH Cholil Nafis berharap pada musim haji mendatang pemerintah Arab Saudi dapat memberikan fasilitas bagi pelaksanaan Tarwiyah, yakni ibadah sunnah yang dilakukan dengan bermalam di Mina pada 8 Zulhijah sebelum wukuf di Arafah.
Menurutnya, Tarwiyah memiliki nilai spiritual yang penting dan selama ini menjadi harapan sebagian jemaah Indonesia untuk dapat dilaksanakan secara lebih terfasilitasi.
Selain itu, ia juga menyoroti pelaksanaan mabit di Muzdalifah yang tahun ini menerapkan skema murur. Menurutnya, pelaksanaan murur tetap dapat memenuhi ketentuan mabit berdasarkan pendapat fikih yang memberikan ruang terhadap kondisi dan kebutuhan jemaah.
Baca Juga: Pengawasan Ketat, Haji Khusus 2026 Bersih dari Visa Ilegal
Dalam praktiknya, kata dia, sebagian jemaah diberangkatkan lebih awal, sementara jemaah yang memiliki uzur diberangkatkan setelah tengah malam sesuai ketentuan yang berlaku.
KH Cholil Nafis juga menekankan pentingnya penerapan prinsip istita'ah atau kemampuan bagi calon jemaah haji, baik dari sisi kesehatan maupun kemampuan ekonomi.
Menurutnya, upaya menekan biaya haji melalui subsidi yang terlalu besar berpotensi berdampak pada kualitas pelayanan yang diterima jemaah selama berada di Tanah Suci.
Ia mencontohkan fasilitas di Mina yang masih dapat ditingkatkan apabila tersedia dukungan anggaran yang lebih memadai. Dengan pembiayaan yang lebih baik, jemaah berpeluang mendapatkan tenda yang lebih nyaman dan lokasi yang lebih dekat dengan area lempar jumrah di Jamarat.
"Kalau kualitas layanan ingin terus meningkat, maka aspek istitaah perlu diperkuat. Dengan begitu, fasilitas yang diterima jemaah juga bisa lebih baik," katanya.
KH Cholil Nafis berharap evaluasi terhadap penyelenggaraan ibadah haji terus dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, perbaikan dari tahun ke tahun diperlukan agar kualitas pelayanan, kenyamanan, dan kekhusyukan jemaah haji Indonesia semakin meningkat.
"Dengan evaluasi yang berkesinambungan, kita berharap penyelenggaraan haji Indonesia semakin baik dan mampu memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh jemaah," tutupnya. (San).