digtara.com – Kementrian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap sebanyak 1.012 warga Indonesia terjangkit Covid-19 varian Delta. Berdasarkan temuan kasus di 29 provinsi, NTT menjadi sorotan karena kasus varian delta cukup tinggi.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan, saat ini ada 102 kasus varian delta yang ditemukan di NTT. Angka tersebut cukup tinggi. Bahkan masuk 4 besar secara nasional.
Berdasarkan data Kemenkes, Covid-19 varian Delta tertinggi ada di DKI Jakarta yang mencapai 694 kasus. Jawa Barat menyusul di posisi kedua dengan 287 kasus. Lalu Jawa Tengah dengan 160 kasus dan NTT 102 kasus.
“Kita bisa sedikit hati-hati untuk Nusa Tenggara Timur (NTT) karena kita menemukan cukup banyak ya, 102 varian Delta,†kata Nadia.
Sebelumnya, Kemenkes juga sudah merilis 10 provinsi di luar Jakarta yang saat ini memiliki kasus varian delta terbanyak. Selain NTT, ada Aceh, Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, NTB, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Maluku dan Papua.
“Kami imbau provinsi-provinsi tersebut untuk lebih waspada dan meningkatkan testing dan tracingnya. Mengingat jumlah varian delta yang terdeteksi cukup tinggi,” tegasnya.
Nadia mengungkap, selain delta, Nadia mengungkap kalau varian-varian Covid-19 lain seperti Alfa dan Beta, serta dua varian of interest yaitu Eta dan Kappa sudah ada di Indonesia. Namun sejauh ini, varian Delta B16 17.2 yang paling banyak.
Nadia mengingatkan varian Delta ini adalah suatu varian yang sangat cepat menular. “Artinya dia membuat kita itu itu dengan reproduktif numbernya yang mencapai 5 sampai 8 itu menyebabkan varian Delta tadi menjadi lebih cepat menular,†katanya.
“Nah, kemudian kalau kita berbicara mengenai bahwa varian Delta tadi tentunya selain cepat menular, juga menyebabkan peningkatan dari pada kasus. Artinya tingkat keparahannya itu sangat berpengaruh ya dengan adanya varian Delta ini,†papar Nadia.