digtara.com – Mahdi (22) salah seorang pengungsi asal Afganistan yang sudah 7 tahun mengungsi di Kota Medan menceritakan bahwa dirinya sudah tidak bisa berkomunikasi dengan orangtuanya sejak kelompok Taliban mengambil alih Afganistan.
Mahdi dijumpai pada saat Puluhan pengungsi Afganistan di Indonesia kembali berunjuk rasa, di depan kantor Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Jalan Pangeran Diponegoro, Medan Polonia, Kota Medan.
“Terakhir komunikasi dengan orang tua 1 Minggu yang lalu, karena disana kondisi sudah tidak bagus karena jaringan sudah dikuasai Taliban,” Ucapnya kepada Digtara.com. Selasa (21/09/2021).
Dirinya juga mengatakan bahwa orang tua beserta kakak dan adiknya harus pindah ke kota Jaghori, karena sebelumnya mereka tinggal di di desa bernama Gazni.
“Dan di kota juga mereka tidak bisa kemana-mana, tidak bisa belanja, tidak bisa keluar dari rumah karena mereka masih takut, adik-adik saya juga tidak bisa bersekolah akibat takut untuk keluar,” ucapnya lagi.
Mahdi juga mengatakan bahwa Taliban tidak mempunyai masalah dengan mereka sewaktu di kampung, tapi tetap saja mereka takut, untuk beraktivitas.
“Terlebih kata pemerintah di sana perempuan tidak diperbolehkan untuk belajar dan bekerja,” tutupnya. (mag-03)