digtara.com – Sejak dibangunnya Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) di Batu Gajah, warga mengalami kerugian besar. Mulai dari lahan perkebunan digenangi air, hingga kesulitan air bersih.
Hal ini dikatakan Hamdani (43) warga Dusun Suka Mulya, Lau Damak, Bahorok yang lahannya juga menjadi dampak bendungan PLTM, Selasa (15/2/22).
Akibat peristiwa ini, kata Dani, warga petani mengalami kerugian jutaan hingga puluhan juta.
“Sangat banyak kerugian kami akibat dampak PLTM itu, namun seenaknya saja pengelola menetapkan ganti rugi yang kami nilai sangat-sangat merugikan kami,” cetusnya.
Bendungan yang dibangun perusahaan pembangkit listrik itu, lanjut Dani, menyebabkan air Sungai Wampu tak mengalir sebagaimana mestinya.
Genangannya bahkan mencapai beberapa kilometer dan membuat aliran sungai semakin melebar.
“Dah dua bulan lebih kami tidak bisa panen lantaran sawit kami mati terendam. Genangan airnya saja lebih dari 5 meter. Kami minta agar PT Thong Langkat Energi bertanggungjawab. Kami minta ganti untung atas kerusakan lahan kami ini,†tegasnya.
Bahkan, selain tanaman warga yang gagal panen, masyarakat di sana juga kehilangan sumber air bersih (pancur).
“Sejak tergenang, pancur tak lagi terlihat. Masyarakat sekitar terpaksa membeli air bersih untuk mereka minum,” ujarnya kesal.