digtara.com - Inspektur Jenderal Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI Mayjen TNI (Purn) Dendi Suryadi menegaskan, petugas haji merupakan unsur paling menentukan dalam keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji. Ia menyoroti persoalan klasik yang hampir selalu muncul setiap tahun, yakni kinerja petugas yang belum optimal."Petugas hadir di Daerah Kerja (Daker) untuk melayani dan melindungi jemaah. Kalian adalah perwakilan fungsi negara, yakni melindungi segenap tumpah darah dan memajukan kesejahteraan umum," tegas Dendi saat memberikan pengarahan kepada petugas haji kloter Embarkasi Makassar (UPG) di Aula Arafah Asrama Haji Embarkasi Makassar, Senin (9/2/2026) malam.
Menurut Dendi, karena peran strategis tersebut, pembinaan dan pelatihan petugas haji dilakukan secara serius, dimulai dari hal-hal mendasar seperti saling mengenal dan membangun kebersamaan (lita'arafu). Ia mengutip Bung Hatta yang menyebut persatuan sebagai kekuatan bangsa, serta mengibaratkan umat Islam sebagai bangunan yang saling menguatkan.
Irjen Dendi juga mengingatkan pentingnya kepatuhan dan perubahan mindset petugas. Ia menekankan perlunya meninggalkan mental tidak mau diperintah, perilaku kurang sopan di ruang publik, hingga kebiasaan tidak disiplin dalam menjalankan tugas.
"Kita kikis sifat kesombongan. Jangan sampai menerima honor, lalu menghilang. Kita kompak saja bisa kedodoran, apalagi kalau berjalan sendiri-sendiri," ujarnya.
Baca Juga: Singgih Januratmoko; Embarkasi Haji Yogyakarta Mampu Gerakkan Ekonomi Barat DIY Sebagai upaya membangun kedisiplinan dan kekompakan, Dendi menyebut Peraturan Baris Berbaris (PBB) sebagai metode pembentukan karakter kolektif. Ia menyamakan PBB dengan salat berjamaah, yang mengajarkan kapan harus bergerak dan kapan harus diam, serta pentingnya meluruskan shaf.
Dalam konteks kepemimpinan kloter, Dendi menegaskan bahwa seluruh unsur petugas—ketua kloter, pembimbing ibadah (bimbad), tenaga kesehatan, dan petugas lainnya—harus melebur tanpa ego sektoral. Ketua kloter disebutnya sebagai umara' yang menjadi pengikat dan pengarah di lapangan.
"Di kloter tidak ada lagi sekat: saya nakes, saya bimbad, saya ketua kloter. Semua melebur. Setiap pagi dan malam, ketua kloter wajib melaporkan kondisi dan kekuatan jemaahnya," jelasnya.
Usai pengarahan Irjen, kegiatan dilanjutkan dengan sesi perkenalan petugas
PPIH Arab Saudi dari berbagai tugas dan fungsi (tusi) serta dari tiga Daerah Kerja (Daker). Sesi ini menjadi upaya membangun bonding, menyatu, dan saling mengenal antara petugas
PPIH Arab Saudi dengan petugas
PPIH Kloter.
Melalui perkenalan tersebut, diharapkan terbangun kolaborasi yang solid sejak awal, sehingga pelayanan dan perlindungan terhadap jemaah haji Indonesia di Tanah Suci dapat berjalan lebih optimal dan terkoordinasi.
Irjen Dendi juga meminta agar penetapan ketua regu (karu) dan ketua rombongan (karom) dilakukan lebih awal. Setelah Lebaran, karu dan karom sudah harus terbentuk, melakukan silaturahmi, membuat grup WhatsApp, serta aktif berinteraksi dengan jemaah.
Baca Juga: Menteri PPPA, Arifatul Choiri Fauzi; Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah Penyelenggaraan Ibadah Haji, Petugas Haji Perempuan Capai 33 Persen Tak hanya petugas, Dendi turut menekankan pentingnya solidaritas antarjemaah. "Yang muda menolong yang tua, yang sehat membantu yang sakit. Kita semua ingin kualitas haji kita semakin baik," katanya.
Terkait penyelenggaraan haji, Irjen mengakui bahwa pengurusan haji sejak era kolonial Belanda dikenal punya kompleksitas tinggi. Namun melalui Kementerian Haji, pemerintah kini menetapkan sedikitnya empat indikator keberhasilan haji.
Pertama, seluruh kuota haji terserap penuh sebanyak 221 ribu jemaah. Kedua, menurunnya angka kematian jemaah, bahkan diupayakan hingga nol. Ketiga, tidak ada jemaah yang hilang. Keempat, tidak ada lagi kesulitan mendasar seperti jemaah terpisah dari pasangan atau koper tercecer.
Irjen kembali menegaskan, tugas petugas haji adalah amanah mulia sekaligus pertaruhan integritas. Ia mengingatkan pentingnya menjaga adab selama berada di Tanah Suci.
"Kita bertamu di kota suci, di kampung Rasulullah. Jaga adab, jangan buang sampah sembarangan. Tidak mungkin kita mendapat cinta Allah jika kita tidak mencintai Rasul-Nya," pesannya.
Menjawab pertanyaan terkait kemungkinan pemulangan jemaah apabila dinyatakan tidak istithaah kesehatan di Embarkasi, Dendi menyatakan hal tersebut bisa saja terjadi.
Baca Juga: Diklat PPIH 2026 Mau Berakhir, Tak Ada Perlakuan Istimewa Kepada Peserta
"Kalau memang kondisi faktualnya tidak sehat. Standar kesehatan bukan ditentukan pemerintah pusat, tetapi pemerintah Arab Saudi. Karena itu jaga kesehatan sampai hari H keberangkatan hingga kembali ke Tanah Air," pungkasnya.
Pengarahan oleh Irjen Kemenhaj Dendi dilaksanakan secara hybrid, luring maupun daring melalui Zoom. Sejumlah petugas PPIH Arab Saudi se-Sulawesi Selatan hadir langsung, sementara lainnya mengikuti secara online. Petugas dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) juga mengikuti pengarahan secara daring.
Untuk diketahui musim haji 2026 ini, sebanyak 43 kloter Embarkasi Makassar akan melayani jemaah haji dari delapan provinsi, yakni: Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. (San).