digtara.com - Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Musahadi, menilai pembimbing ibadah haji dan umrah perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan perubahan perilaku jemaah di era digital. Kreativitas, inovasi, dan kemampuan komunikasi menjadi kompetensi penting dalam proses pembimbingan.
Hal itu disampaikan Musahadi dalam kegiatan Sertifikasi Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah (PIHU) Angkatan III Tahun 2026 yang digelar Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang dan MHU Walisongo Tour bekerja sama dengan Kemenhaj di BBPMP Jawa Tengah, Srondol, Semarang, Minggu (27/9/2026).
Menurut Musahadi, penggunaan media digital telah membawa perubahan besar terhadap perilaku manusia, termasuk masyarakat Muslim dan jemaah haji. Kondisi tersebut menuntut pembimbing haji memahami berbagai perubahan agar proses pembimbingan dapat dilakukan secara efektif dan efisien.
"Pembimbing haji itu harus memahami skema-skema perubahan yang seperti ini dengan memiliki kreativitas yang tinggi dan juga membuka ruang inovasi untuk pembimbingan itu supaya lebih efektif dan efisien," ujar Musahadi.
Ia juga menekankan pentingnya penguasaan ilmu komunikasi. Sebab, selama berada di Arab Saudi, jemaah haji akan berinteraksi dengan masyarakat dari beragam latar belakang budaya dan memiliki cara pandang keagamaan serta pemahaman fikih haji yang berbeda.
"Sehingga dibutuhkan kemampuan untuk menjelaskan fikih haji itu secara lebih bijaksana, kemampuan untuk bagaimana bersikap, menerima pihak lain yang memiliki perspektif fikih yang berbeda," katanya.
Baca Juga: Pembimbing Haji Perlu Kuasai Psikologi Komunikasi, Ini Alasannya
Selain kemampuan komunikasi, Musahadi menyebut keterampilan mengelola konflik perlu menjadi bagian dari kompetensi pembimbing haji. Karena itu, ia meminta lembaga pelatihan dan sertifikasi pembimbing haji turut memberi perhatian pada penguatan kemampuan tersebut agar pembimbing mampu menghadapi keragaman jemaah secara lebih baik. (San).