Fahruddin Faiz: Pesantren Tetap Jadi Penjaga Moral di Era AI

Stadium General FAI Unwahas
Ahsan Fauzi - Minggu, 04 Oktober 2026 10:45 WIB
Rifqi
Penulis Kajian Filsafat Islam, Dr. Fahruddin Faiz, M.Ag saat menjadi narasumber dalam Stadium General di Fakultas Farmasi Kampus 2 Unwahas Gunungpati Semarang, Sabtu (3/10/2026)

digtara.com - Pesantren dinilai tetap memiliki peran penting sebagai lembaga pendidikan yang membentuk moral dan karakter generasi bangsa di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Penulis kajian filsafat Islam, Dr. Fahruddin Faiz, M.Ag., mengatakan munculnya sejumlah kasus di lingkungan pesantren tidak seharusnya membuat masyarakat menggeneralisasi seluruh pesantren memiliki persoalan yang sama.

Hal itu disampaikan Fahruddin saat menjadi narasumber dalam Stadium General Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) di Aula Fakultas Farmasi Kampus 2 Unwahas, Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (3/10/2026).

Menurut Fahruddin, setiap pesantren memiliki keunggulan dan spesialisasi yang berbeda. Karena itu, lulusan pesantren tidak hanya menjadi kiai atau ulama, tetapi juga berkiprah sebagai dokter, aparatur sipil negara (ASN), pengusaha, politisi, dan berbagai profesi lainnya.

"Pesantren itu ada yang bagus, ada yang jelek, ada pula yang berkasus. Maka pengasuh dan pengelola pesantren harus menyikapinya dengan melakukan perbaikan," kata Fahruddin seusai acara.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak menggeneralisasi persoalan yang terjadi di satu pesantren terhadap seluruh lembaga pesantren.

Baca Juga: Abdurrosyid Jadi Doktor ke-33 Unwahas, Siap Kembangkan Kurikulum PAI untuk Perkuat Moderasi Beragama di Sekolah

"Kita punya sekian ribu pesantren, tapi ada satu kasus kemudian digeneralkan. Budaya seperti ini yang sering membuat kita menjadi rugi," ujarnya.

Pesantren Ajarkan Manusia Punya "Rem"

Fahruddin mengatakan perkembangan teknologi membuat manusia hidup dalam era yang serba cepat. Kondisi tersebut membutuhkan kemampuan untuk mengendalikan diri agar manusia tidak sekadar mengikuti arus perkembangan teknologi.

"Idealnya manusia itu punya rem, punya daya refleksi yang lebih dalam, tidak sekadar mengikuti arus," katanya.

Menurut dia, pesantren menjadi salah satu lembaga pendidikan yang dapat membentuk kemampuan tersebut. Pesantren tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap dan karakter manusia.

"Kalau saya, lembaga pendidikan yang bisa mendidik manusia untuk bisa lebih mengerem, tidak sekadar ngegas dalam hidupnya, itu di antaranya adalah pesantren," tegasnya.

Fahruddin menilai pesantren semakin relevan di tengah perkembangan AI. Teknologi membuat seseorang dapat memperoleh informasi dengan cepat dan terkadang menimbulkan anggapan bahwa manusia tidak lagi membutuhkan orang lain untuk mendapatkan pengetahuan.

"Kunci dan solusi problem peradaban yang mana orang merasa tahu segalanya, merasa tidak butuh orang karena dukungan AI dan sebagainya," ujarnya.

Menurut dia, pesantren dapat berperan dalam mengajarkan penghargaan terhadap ilmu, kemanusiaan, serta pentingnya proses belajar dan keteladanan di tengah kemajuan teknologi.

Pesantren Dibutuhkan Generasi Muda

Baca Juga: Raih Predikat Unggul dari LAMDIK, Prodi PGMI dan PAI Unwahas Ingin Jadi Kampus Aswaja yang Mendunia

Dekan FAI Unwahas, Dr. Iman Fadhilah, MSI., mengatakan masyarakat masih membutuhkan pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pembentukan karakter anak.

Menurutnya, generasi muda, termasuk generasi Alpha, membutuhkan sosok teladan dalam kehidupan mereka. Dalam konteks tersebut, kiai dan ulama di pesantren memiliki peran penting.

"Pesantren sebagai entitas penjaga moral, penjaga etika saat ini yang tentu generasi muda, generasi Alpha saat ini sangat membutuhkan keteladanan," kata Iman.

Ia mengatakan pembahasan mengenai kepesantrenan diangkat dalam Stadium General FAI Unwahas karena bertepatan dengan momentum menjelang Hari Santri.

Hari Santri, kata dia, tidak seharusnya diperingati hanya sebagai bentuk euforia atau nostalgia terhadap perjuangan kiai dan santri dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

"Sebentar lagi kita memperingati Hari Santri, banyak pelajaran yang tentu menjadi value atau nilai. Salah satunya tentang globalisasi," ujarnya.

Pengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Fadhilah itu mencontohkan kiprah ulama Nusantara yang sejak dahulu telah menyebarkan nilai-nilai Islam hingga membumi dalam kehidupan masyarakat lokal.

Ia menyebut KH Shaleh Darat dan sejumlah ulama Nusantara lainnya sebagai contoh tokoh yang mampu mengembangkan nilai-nilai Islam sekaligus membangun kehidupan masyarakat melalui pendekatan budaya lokal.

"Pada abad ke-19, ulama Nusantara sudah mengglobal dengan nilai-nilai ajaran yang sudah membumi di lokalitas. Maka kita belajar tentang bagaimana penerapan nilai-nilai Islam di level lokal maupun global. Islam ramah, Islam yang rahmah, Islam yang membawa maslahah bagi sesama," pungkasnya. (San).


Editor
: Ahsan Fauzi

Tag:

Berita Terkait

Berita

Abdurrosyid Jadi Doktor ke-33 Unwahas, Siap Kembangkan Kurikulum PAI untuk Perkuat Moderasi Beragama di Sekolah

Berita

Raih Predikat Unggul dari LAMDIK, Prodi PGMI dan PAI Unwahas Ingin Jadi Kampus Aswaja yang Mendunia