digtara.com – Urmi (45), seorang tukang botot yang sampai saat ini meratapi kehidupannya yang penuh beban. Bahkan saat dijumpai sewaktu dikediamannya, tepat pada perayaan HUT ke-75 RI lalu, tiada rasa merdeka dalam perjalanan hidupnya. Kisah Urmi, Potret Tukang Botot yang Derita Ragam Penyakit Namun Tak Mampu Berobat
Urmi, ibu dari enam orang anak yang sejak 2011 telah ditinggal sang suami.
Sejak itu dirinya merasa sangat terpuruk, sebab akan membesarkan anak-anaknya dengan sebatang kara. Tidak ingin terus larut dalam kepedihan, demi melihat anaknya bahagia kelak semangatnya kian terbangun.
Di tengah pandemi yang memukul ekonomi penghidupannya, derita dirasanya juga dari kondisi tubuhnya yang kian melemah.
Ibu yang dua anaknya bersekolah di SLB (Sekolah Luar Biasa) ini, sejak 2011 pula telah menderita beragam penyakit hingga mengalami komplikasi.
Terkendala Biaya Berobat
Sejak tahun lalu, dia mencoba untuk berobat, namun ketika mengetahui harga obat yang mesti dikonsumsinya sekitar Rp700.000, niatnya pun diurungkan dan beralih ke penyembuh tradisional serta obat seadanya.
“Penyakit ibu banyak, seperti gula kering, asam urat hingga TBC tulang. Kemarin dokter bilang tubuh ibu pun tidak boleh kena air, makanya kalau salat ini pun sulit. Obat paling itulah yang harga Rp10.0000, kalau engga jahe, kunyit, daun sirih itulah,” sebutnya kepada digtara.com, di kediamannya, daerah jembatan jalan Kejaksaan, Kampung Kubur, dusun Kebun Bunga, Kota Medan, tepat di hari Kemerdekaan RI.
Baca: Kisah Urmi, Potret Tukang Botot yang Bertahan Hidup di Masa Pandemi
Kondisi ibu yang sudah menjanda ini, bertubuh kurus dan tiada berambut lagi. Ia bicara dengan sesekali terisak menceritakan perjalanan hidupnya.
Seiring rutin mengendarai becaknya, gejala yang sering dialaminya terkadang keram di lengan tangan dan kakinya sehingga sulit bergerak hingga pusing, batuk-batuk, dll.
Baca: Kisah Heroik Bripda Tika Sinaga, Galang Dana untuk Penderita Kanker Mata
“Pendapatan ibu paling Rp800.000 per bulan. Itupun kalau botot dan sewa (becak) engga sepi kayak sekarang. Gimana mau beli obat, yang ada anak ibu nanti engga makan. Kalau ada yang bantu ya ibu bersyukur aja,” ucapnya.
Kini keseharian beliau bekerja sebagai tukang sapu di kompleks Millennium Busines Centre (MBC) dari pukul 07.00 Wib hingga 12.00 Wib.
Selepas itu, mencari botot mengelilingi daerah Titi Kuning, Padang Bulan, Kampung Keling ddan sekitarnya sampai 18.00 Wib.
Sedangkan jikalau ada penyewa untuk mengantar dan menjemput barang, Urmi juga akan langsung menerimanya.
“Pokoknya asal anak-anak engga ikutan sakit bang, cukup ibu aja. Meskipun begitu, tetapnya ibu kerja keras, biar mereka tidak terkendala pendidikan dan kebutuhan sehari-harinya,” tutupnya. [Mag-3]
Saksikan video-video terbaru lainnya hanya di Channel YoutubeDigtara TV. Jangan lupa, like comment and Subscribe.
Kisah Urmi, Potret Tukang Botot yang Derita Ragam Penyakit Namun Tak Mampu Berobat