Harga CPO Masih Berpotensi di Bawah RM 2.000

Redaksi - Sabtu, 20 April 2019 01:23 WIB

Warning: getimagesize(https://cdn.digtara.com/uploads/images/201904/sawit.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u398301689/domains/digtara.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u398301689/domains/digtara.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u398301689/domains/digtara.com/public_html/amp/detail.php on line 172

digtara.com | JAKARTA – Tahun ini, harga minyak sawit mentah (CPO) diprediksi masih loyo. Pasca terganjal kebijakan impor dari Uni Eropa, kini lembaga rating RAM Rating ikut memangkas proyeksi harga CPO untuk 2019.

Dalam keterangan yang dirilis Senin (15/4), RAM Ratings umumkan penurunan proyeksi harga CPO 2019, dari sebelumnya berada di rentang RM 2.300 – RM 2.500, menjadi RM 2.200 – RM 2.400 rata-rata per ton.

“Itu wajar, bahkan kalau saya memprediksi masih bisa ke area RM 2.000 per ton,” kata Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono kepada Kontan, Rabu (17/4).

Menurutnya, tren harga CPO tahun ini cenderung masih lemah. Baik dilihat secara teknikal maupun dari sisi fundamental.

Untuk kuartal II-2019, Wahyu memprediksi harga CPO akan berada di kisaran RM 1.900 – RM 2.300 per ton. Melihat kondisi fundamental yang cenderul lemah, maka harapan penguatan harga saat ini cenderung lebih kepada sisi teknikal level oversold.

“Sepertinya, CPO akan mendapat support rebound, mendekati atau di bawah RM 2.000 per ton. Konsolidasi juga bisa terjadi di atas itu, dengan frekuensi level RM 2.100,” jelasnya.

Dia menjelaskan, saat ini sentimen negatif lebih banyak menekan harga CPO, pasca sempat memuncak ke level RM 3.594 di Februari 2017. Isu mengenai supply yang melimpah, karena musim tahun ini cukup mendukung produksi CPO.

Selain itu, ada pula isu yang datang dari China terkait ancaman pelambatan pertumbuhan ekonomi serta perang dagang dengan Amerika Serikat (AS). Adapula isu lingkungan terkait kebijakan Uni Eropa, terkait kampanye negatif, serta sentimen penguatan dollar AS.

“CPO memang belum bisa bangkit dari keterpurukan. Alasan bangkitnya pun hanya karena oversold, di mana harga terlalu murah dan memicu spekulatif buying di sekitar RM 2.000 per ton. Saat ini sulit mendapat atau mencari sentimen positif,” tandasnya.

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Ekonomi

Palmex Medan 2025: Pusat Inovasi dan Kolaborasi Industri Kelapa Sawit Asia Tenggara

Ekonomi

Palmex Medan 2025: Pameran Sawit Terbesar Asia Tenggara Siap Digelar Oktober Ini

Ekonomi

Viral! Aksi Warga Labuhanbatu Kubur Diri Tolak Pabrik Kelapa Sawit

Ekonomi

Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Ekonomi

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Ekonomi

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya