BI: Modal Asing Masuk ke Indonesia Capai Rp112 Triliun

Redaksi - Sabtu, 15 Juni 2019 01:41 WIB

Warning: getimagesize(https://cdn.digtara.com/uploads/images/201906/nilai-tukar-rupiah-ilustrasi.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u398301689/domains/digtara.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u398301689/domains/digtara.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u398301689/domains/digtara.com/public_html/amp/detail.php on line 172

Digtara.com |JAKARTA – Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing masuk ke Indonesia (capital inflow) mencapai Rp112 triliun sejak awal tahun hingga 11 Juni 2019. Jumlah tersebut terdiri dari dana asing yang mengalir di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan portofolio saham.

“Secara year to date inflow ke SBN per 11 Juni mencapai Rp61,4 triliun, bila di total dengan ke saham mencapai Rp112 triliun,” ujar Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah dalam keterangannya.

Nanang menyatakan, aliran modal asing itu masuk didorong sengketa perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang membuat perlambatan ekonomi, terutama di negara adi daya tersebut. Sehingga probabilitas penurunan suku bunga acuan Bank Sentral AS semakin besar di tahun ini.

Di sisi lain, penurunan suku bunga acuan di sejumlah negara juga berdampak pada penurunan imbal hasil (yield) obligasi, sehingga membuat selisih (spread) imbal hasil dengan obligasi Indonesia semakin menarik yang mendorong masuknya modal asing. Saat ini imbal hasil obligasi negara Indonesia tenor 10 tahun (seri FR 78) berada di 7,7%.

Imbal hasil itu bahkan belum memperhitungkan kenaikan rating utang Indonesia yang menjadi BBB dengan outlook stabil oleh lembaga pemeringkat internasional S&P. Hal ini dinilainya berpotensi mendorong peningkatan arus modal masuk ke Indonesia cukup besar kedepannya.

“Sehingga ini yang akan mendorong arus modal masuk ke Indonesia dan menopang Rupiah ke depan lebih stabil,” kata dia.

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan nilai tukar Rupiah hingga 12 Juni 2019 menguat sebesar 1,02% ke level Rp14.235 per USD. Posisi kurs Rupiah saat ini jauh lebih baik dibandingkan pada posisi akhir tahun lalu yang di level Rp14.380 per USD.

Maka, secara rata-rata nilai tukar Rupiah 2019 tercatat mencapai Rp14.188 per USD atau menguat 0,41%. Juga membaik bila dibandingkan dengan rata-rata di 2018 yang sebesar Rp14.246 per USD.

Menurutnya, kondisi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) sepanjang 2019 diperkirakan akan terus membaik, seiring dengan prospek masuknya aliran modal asing ke Tanah Air. Defisit transaksi berjalan juga diperkirakan lebih rendah dari tahun lalu sehingga akan berada pada kisaran 2,5% sampai 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

“Dengan kondisi demikian, rata-rata nilai tukar rupiah pada tahun 2019 akan berada pada kisaran Rp14.000-Rp14.400 per USD,” kata dia dalam rapar kerja dengan Komisi XI DPR RI di Gedung DPR, Jakarta.[oke]

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Ekonomi

Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Ekonomi

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Ekonomi

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Ekonomi

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Ekonomi

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur

Ekonomi

Kejati NTT Tahan Lima Tersangka Kasus Korupsi Persemaian Modern di Labuan Bajo