digtara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak menguat pada awal pekan ini, Senin (13/10/2025), setelah pada akhir pekan lalu ditutup melemah tipis.
Pada perdagangan Jumat (10/10/2025),
rupiah melemah 2 poin atau 0,01% dan berakhir di level Rp16.570 per
dolar AS. Di sisi lain, indeks
dolar AS juga melemah 0,27 poin (0,27%) ke posisi 99,26.
Adapun pada akhir perdagangan Minggu (12/10/2025), indeks dolar AS kembali turun ke 98,97.
Mengutip Reuters, pelemahan dolar AS dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang berencana menaikkan tarif impor China hingga 100%. Pernyataan itu menekan greenback dan membuat nilai tukar euro dan yen menguat terhadap dolar.
Baca Juga: Rupiah Diprediksi Melemah, Terdorong Ketidakpastian Ekonomi AS dan Sinyal Pelonggaran The Fed Meski terkoreksi, indeks
dolar AS masih mencatat kenaikan mingguan sebesar 1,66%, menjadi yang tertinggi sejak September 2024.
Prediksi Pergerakan Rupiah
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah pada pekan ini akan bergerak fluktuatif, namun memiliki peluang untuk ditutup menguat di kisaran Rp16.520–Rp16.570 per dolar AS.
Menurutnya, pelemahan
dolar AS dipengaruhi oleh beberapa faktor global, termasuk penutupan sebagian pemerintahan AS yang telah berlangsung hingga hari kesembilan serta hasil risalah rapat Federal Reserve (The Fed) yang menunjukkan para pembuat kebijakan cenderung mendukung pasar tenaga kerja yang melemah.
"Prospek pelonggaran kebijakan moneter semakin besar. Berdasarkan CME FedWatch Tools, peluang penurunan suku bunga hampir 100% pada Oktober, dengan kemungkinan penurunan lanjutan pada pertemuan Desember," jelas Ibrahim.
Kondisi tersebut memberi tekanan terhadap imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury yield) dan mendorong pelemahan dolar AS secara global.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Rp16.620 per Dolar AS, Kamis 9 Oktober 2025
Faktor Domestik
Dari dalam negeri, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2025 dapat mencapai 5,0% hingga 5,1% (year-on-year).Kinerja ekspor yang masih solid disebut menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan di tengah ketidakpastian global.
"Perekonomian nasional masih ditopang oleh ekspor dan daya beli masyarakat yang cukup stabil," ujar Ibrahim.
Dengan kombinasi faktor eksternal dan domestik tersebut, pasar menilai rupiah memiliki peluang teknikal untuk menguat terbatas pada perdagangan awal pekan ini.
Baca Juga: Rupiah Diprediksi Melemah, Terdorong Ketidakpastian Ekonomi AS dan Sinyal Pelonggaran The Fed