digtara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah tipis pada perdagangan hari ini, Selasa (14/10/2025). Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif di kisaran Rp16.570–Rp16.620 per dolar AS seiring meningkatnya ketegangan perdagangan global.
Berdasarkan data Bloomberg,
rupiah terkoreksi 0,02% ke level Rp16.573 per
dolar AS. Sementara itu, indeks
dolar AS juga menguat 0,11% ke posisi 99,09, menandakan penguatan mata uang Negeri Paman Sam terhadap sejumlah mata uang utama dunia.
Tekanan Eksternal dari Ketegangan AS–China
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai, penguatan dolar AS masih dipengaruhi oleh meningkatnya tensi antara Presiden AS Donald Trump dan China terkait rencana penerapan tarif impor sebesar 100%.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Berpotensi Menguat di Awal Pekan, Senin 13 Oktober 2025 Pernyataan Trump tersebut, kata Ibrahim, menimbulkan kekhawatiran baru di pasar keuangan global dan memicu investor beralih ke aset aman seperti
dolar AS.
"Sikap tegas ini meningkatkan kekhawatiran tentang eskalasi baru dalam ketegangan ekonomi AS–China," ujar Ibrahim, Senin (13/10/2025).
Sementara itu, China disebut tidak menunjukkan kekhawatiran berlebihan terhadap kebijakan tarif tersebut, yang justru memperbesar potensi perang dagang jilid baru antara dua raksasa ekonomi dunia itu.
Mata Uang Asia Ikut Terkoreksi
Sejalan dengan pelemahan rupiah, sejumlah mata uang Asia juga mengalami tekanan. Yen Jepang melemah 0,73%, dolar Taiwan turun 0,38%, won Korea terkoreksi 0,13%, serta rupee India dan ringgit Malaysia masing-masing turun 0,02% dan 0,09%.
Namun, sebagian mata uang lain masih mampu menguat, seperti baht Thailand (0,48%), yuan China (0,06%), dan dolar Hong Kong (0,08%).
Baca Juga: Rupiah Diprediksi Melemah, Terdorong Ketidakpastian Ekonomi AS dan Sinyal Pelonggaran The Fed Fundamental Domestik Masih Kuat
Dari sisi domestik, IMF memberikan apresiasi terhadap kinerja ekonomi Indonesia yang dinilai tetap solid di tengah tekanan global.
Ibrahim menyebut, komitmen pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal — dengan defisit di bawah 3% dan rasio utang di bawah 60% terhadap PDB — menjadi faktor yang menahan pelemahan rupiah agar tidak lebih dalam.
"Fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Hanya saja, tekanan eksternal dari AS–China ini yang membuat
rupiah sulit keluar dari tekanan jangka pendek," tambahnya.