digtara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan hari ini, Selasa (23/12/2025). Rupiah diproyeksikan bergerak melemah di kisaran Rp16.770–Rp16.810 per dolar AS, dipengaruhi sentimen global dan kehati-hatian pasar menjelang rilis data ekonomi AS.
Mengutip data Bloomberg, rupiah pada penutupan perdagangan sebelumnya melemah 0,16% atau 27 poin ke level Rp16.777 per
dolar AS. Sementara itu, indeks
dolar AS (DXY) justru terkoreksi tipis 0,05% ke posisi 98,55.
Sentimen Global Tekan Rupiah
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pergerakan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global, terutama dari sisi geopolitik dan data ekonomi Amerika Serikat.
Baca Juga: Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS Hari Ini, Senin 22 Desember 2025 Salah satu sentimen utama datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.
"Ketegangan yang kembali meningkat di Timur Tengah berpotensi mengganggu produksi minyak di kawasan tersebut," ujar Ibrahim dalam risetnya, Senin (22/12/2025).
Kenaikan harga minyak berpotensi menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, karena meningkatkan risiko inflasi dan defisit transaksi berjalan.
Pasar Tunggu Data Ekonomi AS
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga cenderung bersikap wait and see menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat, di antaranya:
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 19 Desember 2025, Dolar AS Fluktuatif di Tengah Sentimen Global Data pertumbuhan ekonomi kuartal IIIPesanan barang tahan lama (durable goods) OktoberProduksi industri periode Oktober dan NovemberData-data tersebut akan menjadi acuan arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) ke depan.
Sentimen Domestik: Tantangan Ekonomi Masih Membayangi
Dari dalam negeri, pasar mencermati prospek ekonomi Indonesia ke depan. Ibrahim menilai, perekonomian nasional masih menghadapi tantangan besar baik dari faktor eksternal maupun domestik, meski peluang pertumbuhan tetap terbuka.
Lembaga internasional memproyeksikan kondisi ekonomi global pada 2026 tidak akan lebih baik dibandingkan tahun 2025. Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi perlambatan ekonomi mitra dagang utama, ketidakpastian perdagangan global, serta dinamika geopolitik.
Risiko Domestik dan Proyeksi Pertumbuhan
Selain tekanan global, ketahanan ekonomi nasional juga akan diuji oleh sejumlah faktor domestik, antara lain:
Pelemahan daya beli kelas menengahRisiko inflasi panganPenurunan investasi asing, terutama di luar sektor hilirisasiDengan berbagai tantangan tersebut, Ibrahim memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9–5,1%.
Baca Juga: Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS Hari Ini, Senin 22 Desember 2025 Menurutnya, untuk mendorong pertumbuhan di atas 5%, diperlukan langkah strategis seperti:
Penguatan sektor manufaktur dan jasaPeningkatan efektivitas stimulus ekonomiPerbaikan tata kelola fiskalOutlook Rupiah Hari Ini
Dengan sentimen global yang masih fluktuatif dan minimnya katalis positif jangka pendek, pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa (23/12/2025) diperkirakan masih rentan melemah, meski peluang stabilisasi tetap terbuka apabila tekanan eksternal mereda.