digtara.com -Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, Jumat, 2 Januari 2026, diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Rupiah diproyeksikan berada pada kisaran Rp16.680 hingga Rp16.710 per dolar Amerika Serikat.
Sebagai perbandingan, pada perdagangan terakhir tahun lalu, Rabu, 31 Desember 2025, rupiah ditutup menguat sebesar 91 poin atau sekitar 0,54 persen ke level Rp16.680 per
dolar AS. Posisi tersebut lebih baik dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.771 per
dolar AS.
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa penguatan rupiah di akhir tahun dipengaruhi oleh sentimen global, khususnya risalah rapat kebijakan Federal Reserve Amerika Serikat pada Desember 2025.
Menurut Ibrahim, risalah tersebut menunjukkan adanya perbedaan pandangan yang cukup tajam di antara para pembuat kebijakan The Fed terkait arah suku bunga pada tahun 2026. Meskipun The Fed menurunkan suku bunga sebesar seperempat poin, sejumlah pejabat menilai pelonggaran lebih lanjut perlu dilakukan dengan sangat hati-hati.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini Selasa 30 Desember 2025, Rupiah Masih Tertekan Tekanan inflasi yang masih relatif tinggi serta ketidakpastian prospek ekonomi global menjadi pertimbangan utama. Di sisi lain, beberapa pejabat Federal Reserve juga mengingatkan bahwa kebijakan moneter yang terlalu ketat berpotensi menekan laju pertumbuhan ekonomi jika diterapkan terlalu lama.
Dari kawasan Asia, aktivitas manufaktur China pada Desember 2025 kembali menunjukkan ekspansi. Indeks manufaktur tercatat berada di atas level 50, menandakan peningkatan permintaan domestik menjelang akhir tahun. Meski demikian, pelaku pasar masih merespons data tersebut dengan sikap waspada.
Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik global dinilai masih menjadi risiko utama yang dapat memengaruhi rantai pasok dan memicu volatilitas harga komoditas, meskipun dalam jangka pendek sesekali memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan.
Dari dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5 persen dinilai mencerminkan stabilitas dan menjadi target realistis untuk tahun 2026. Namun demikian, pemulihan ekonomi masih menghadapi tantangan berupa tekanan harga pangan dan energi serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Ibrahim menegaskan bahwa penguatan fundamental ekonomi menjadi kunci menjaga stabilitas rupiah ke depan. Perekonomian nasional tidak boleh hanya bergantung pada konsumsi rumah tangga, sementara belanja pemerintah perlu diarahkan agar memberikan efek berganda yang lebih luas. Selain itu, sektor ekspor diharapkan mampu menghasilkan lebih banyak produk bernilai tambah tinggi guna memperkuat cadangan devisa.