digtara.com -Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang kembali menguat dan menguji area 9.030–9.077 pada perdagangan Jumat (9/1/2026), seiring masih kuatnya sentimen pasar meski tekanan koreksi jangka pendek tetap perlu diwaspadai.
Tim Analis
MNC Sekuritas mencatat
IHSG sebelumnya ditutup melemah 0,22% ke level 8.925, setelah sempat menyentuh all time high (ATH) secara intraday di posisi 9.002. Pelemahan terjadi akibat dominasi tekanan jual, di mana target penguatan jangka pendek telah tercapai.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan berada pada bagian wave (v) dari wave [iii], sehingga peluang penguatan lanjutan masih terbuka pada rentang 9.030–9.077.
"Namun, investor perlu mewaspadai potensi koreksi lanjutan yang diperkirakan menguji area 8.843–8.904," tulis Tim MNC Sekuritas dalam riset harian, Jumat (9/1/2026).
Baca Juga: Rekomendasi Saham Hari Ini 8 Januari 2026, IHSG Rawan Koreksi ke Area Support Level Support dan Resistance IHSGUntuk perdagangan hari ini, MNC Sekuritas memproyeksikan:
Support IHSG: 8.916 – 8.776Resistance IHSG: 8.996 – 9.030Adapun saham yang masuk dalam daftar rekomendasi analis MNC Sekuritas antara lain:
CDIAMINAULTJTLKMIHSG Tinggal Tunggu Waktu Tembus 9.000
Sebelumnya, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai IHSG hanya tinggal menunggu waktu untuk menembus dan bertahan di atas level psikologis 9.000.
Baca Juga: Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini Rabu 7 Januari 2026, Berpeluang Lanjut Menguat Pada perdagangan intraday Kamis (8/1/2026),
IHSG sempat menyentuh level tersebut sebelum akhirnya ditutup terkoreksi 0,22% ke 8.925,48.
"Semua membutuhkan waktu. Tidak ada saham yang terus naik tanpa jeda, karena pasti akan ada titik jenuh. Oleh sebab itu, koreksi diperlukan sebelum penguatan berlanjut," ujar Nico.
Sektor Potensial Penggerak IHSG Januari 2026
Nico menilai sentimen pasar masih cukup solid untuk menopang laju
IHSG, meski volatilitas tetap tinggi akibat tensi geopolitik global. Seiring peluang
IHSG mencetak rekor baru, sejumlah sektor dinilai berpotensi menjadi penopang utama.
Sektor yang diperkirakan masih berpeluang menguat:
Baca Juga: Rekomendasi Saham Hari Ini 6 Januari 2026, IHSG Rawan Koreksi Usai Cetak Rekor Tertinggi Transportasi & logistikIndustriBasic materialsProperti & real estateEnergiSementara sektor yang berpotensi mengalami tekanan:
TeknologiKeuangan (finance)Kesehatan (healthcare)Kinerja Sektor Berdasarkan Data BEIMengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Kamis (8/1/2026):
Sektor energi menguat 0,49% dan naik 8,51% secara year to date (YtD)Basic materials terkoreksi 3,22%, namun masih naik 6,61% YtDIndustri melemah 0,19%, tetap naik 8,37% YtDTransportasi & logistik menguat 1,75% atau 7,63% YtDProperti & real estate naik 1,50% atau 3,82% YtDSentimen Global dan Domestik Masih Jadi Penentu
Lebih lanjut, Nico menyebut investor saat ini masih bersikap wait and see, sambil menantikan sejumlah rilis data ekonomi global. Dari Amerika Serikat dan Eropa, pasar mencermati data consumer price index (CPI) dan gross domestic product (GDP).
Di kawasan regional, perhatian tertuju pada rilis GDP China kuartal IV/2025 dan data penjualan ritel. Sementara dari dalam negeri, investor menunggu keputusan suku bunga Bank Indonesia yang dijadwalkan pada 21 Januari 2026.
Di sisi lain, eskalasi konflik geopolitik Amerika Serikat–Venezuela dinilai berpotensi menambah tekanan global dan menahan laju penguatan pasar saham.
Baca Juga: Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini Senin 29 Desember 2025, ARTO hingga ANTM Jadi Sorotan
"Apa yang dilakukan Amerika bisa menjadi pemicu bagi negara lain. Potensi konflik lanjutan, termasuk risiko di kawasan Asia Timur, perlu dicermati pelaku pasar," pungkas Nico.