digtara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (2/2/2026) diperkirakan bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah pada kisaran Rp16.780 hingga Rp16.810 per dolar AS.
Mengutip Bloomberg, rupiah tercatat melemah 30,50 poin atau 0,18% ke level Rp16.785,5 per
dolar AS. Pada saat yang sama, indeks
dolar AS menguat 0,17% ke posisi 96,44.
Pergerakan mata uang Asia pada akhir perdagangan terpantau bervariasi. Yen Jepang terdepresiasi 0,44%, disusul won Korea Selatan yang melemah 0,46%. Sementara itu, ringgit Malaysia dan yuan China justru menguat masing-masing 0,5% terhadap dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai penguatan dolar AS dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan akan segera mengumumkan nominasi Ketua The Federal Reserve.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah ke Rp16.792 per Dolar AS Hari Ini (27/1) Nama Kevin Warsh, mantan Gubernur The Fed, disebut sebagai kandidat kuat. Ia dipandang pasar berpotensi mendukung kebijakan pemangkasan suku bunga yang lebih agresif.
"Potensi nominasi Kevin Warsh muncul di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar terhadap independensi The Fed, menyusul dorongan berulang dari Presiden Trump agar bank sentral memangkas suku bunga secara tajam," ujar Ibrahim, Jumat (30/1/2026).
Selain faktor kebijakan moneter AS, sentimen global juga dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, menyusul ancaman serangan AS terhadap Iran terkait isu senjata nuklir. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan mendorong investor kembali memburu aset aman, termasuk dolar AS.
Dari sisi domestik, Bank Indonesia (BI) terus memperkuat pengelolaan cadangan devisa sebagai instrumen utama menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Langkah ini dinilai penting untuk meredam dampak dinamika suku bunga global serta kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.
Ibrahim menilai BI saat ini memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial, disertai percepatan digitalisasi ekonomi.
"Cadangan devisa tidak hanya berfungsi sebagai bantalan krisis, tetapi juga mendukung transformasi ekonomi nasional agar lebih adaptif di tengah volatilitas keuangan global," jelasnya.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Senin 26 Januari 2026, Bergerak di Rp16.820–Rp16.850 per Dolar AS Ia menambahkan, penguatan bauran kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, meski tekanan ketidakpastian global terus meningkat.