digtara.com -Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu, 4 Februari 2026, diperkirakan bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah di kisaran Rp16.750 hingga Rp16.780 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah justru tercatat menguat 0,26% atau 44 poin ke level Rp16.754 per
dolar AS. Pada saat yang sama, indeks
dolar AS melemah 0,24% ke level 97,39.
Sentimen Global Tekan Pergerakan Rupiah
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Selasa 3 Februari 2026 Melemah ke Rp16.798 per Dolar AS Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pergerakan rupiah saat ini dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik.
Dari eksternal, pasar global masih dibayangi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang menunjukkan eskalasi. Kondisi tersebut meningkatkan kehati-hatian pelaku pasar dan memicu pergerakan aset safe haven.
Selain itu, sektor perdagangan global turut menjadi perhatian setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan dagang dengan India. Dalam kesepakatan tersebut, AS memangkas tarif impor barang India dari 50% menjadi 18% sebagai imbalan atas penghentian pembelian minyak Rusia oleh India.
Isu The Fed Jadi Perhatian Pasar
Dari sisi moneter, pasar juga mencermati langkah Donald Trump yang menominasikan mantan Gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh, sebagai calon Ketua The Fed berikutnya.
Menurut Ibrahim, meski Warsh cenderung mendukung kebijakan suku bunga rendah, pandangannya terhadap kebijakan moneter tetap relatif ketat.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Senin 2 Februari 2026 "Warsh memang mendukung tuntutan Trump untuk suku bunga lebih rendah, namun ia juga mengkritik pembelian aset The Fed dan menyerukan neraca yang lebih kecil. Hal ini berpotensi membuat kebijakan moneter tetap ketat dalam beberapa tahun ke depan," ujar Ibrahim, Selasa (3/2/2026).
Data Domestik Beri Penopang Rupiah
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari rilis data ekonomi terbaru. S&P Global Market Intelligence mencatat Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada di level 52,6 pada Januari 2026, naik dari 51,2 pada Desember 2025.
Kenaikan PMI tersebut mencerminkan ekspansi sektor manufaktur yang didorong oleh meningkatnya permintaan domestik, meskipun permintaan internasional masih mengalami penurunan selama lima bulan terakhir.
Ibrahim menambahkan, survei S&P juga menunjukkan peningkatan kebutuhan produksi yang mendorong perusahaan untuk menaikkan pembelian input selama enam bulan berturut-turut. Selain itu, perusahaan mulai menambah inventaris pra dan pasca produksi sebagai antisipasi kenaikan permintaan yang berkelanjutan.