digtara.com - Nilai tukar rupiah hari ini, Rabu 5 Februari 2026, diperkirakan bergerak fluktuatif dan berpeluang ditutup melemah di kisaran Rp16.770 hingga Rp16.800 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah berasal dari penguatan dolar AS yang dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik serta ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat.
Pada perdagangan sebelumnya, Selasa 4 Februari 2026, rupiah ditutup melemah 23 poin ke level Rp16.776 per
dolar AS. Pelemahan tersebut sejalan dengan penguatan indeks
dolar AS yang didorong oleh sentimen global.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penguatan dolar AS dipengaruhi oleh kekhawatiran pasar terhadap meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Sentimen negatif menguat setelah militer AS menembak jatuh sebuah drone Iran yang disebut bergerak agresif mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab.
Situasi geopolitik semakin kompleks setelah Iran meminta agar pembicaraan dengan Amerika Serikat yang dijadwalkan pekan ini digelar di Oman, bukan di Turki. Iran juga membatasi agenda perundingan hanya pada isu nuklir. Sikap tersebut dinilai memperumit proses diplomasi yang selama ini berjalan alot, sehingga menambah ketidakpastian di pasar global.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Rabu 4 Februari 2026 Melemah di Tengah Sentimen Global Selain faktor geopolitik, penguatan
dolar AS juga didukung oleh data ekonomi Amerika Serikat yang solid. Indeks Manajer Pembelian atau Purchasing Managers' Index PMI Manufaktur Institute for Supply Management ISM melonjak ke level 52,6 pada Januari 2026, dari 47,9 pada Desember 2025. Angka tersebut jauh melampaui ekspektasi pasar. Sementara itu, PMI Manufaktur Global S&P juga naik menjadi 52,4 dari sebelumnya 51,9.
Data ekonomi yang kuat tersebut memperkuat pandangan bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, masih memiliki ruang untuk bersikap hati-hati sebelum melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter. Pasar pun menurunkan ekspektasi penurunan suku bunga dalam waktu dekat, setelah The Fed mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan Januari 2026.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang penurunan suku bunga pada pertemuan Juni 2026 saat ini diperkirakan berada di kisaran 66 persen. Kondisi ini membuat dolar AS tetap berada di level kuat dan memberi tekanan tambahan terhadap pergerakan nilai tukar rupiah.