digtara.com -Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG hari ini dinilai belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan kepercayaan pasar, meskipun sempat mencatatkan tren penguatan setelah melemah akibat interim freeze rebalancing oleh Morgan Stanley Capital International atau MSCI.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia,
IHSG selama periode 9–13 Februari 2026 menguat 3,49% dan ditutup di level 8.212,271, naik dari posisi 7.935,260 pada pekan sebelumnya. Rata-rata frekuensi transaksi harian turut meningkat 0,37% menjadi 2,74 juta kali transaksi.
Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menilai penguatan tersebut belum mencerminkan pemulihan kepercayaan pasar secara menyeluruh. Hal ini terlihat dari masih berlanjutnya aksi jual bersih investor asing, khususnya pada saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA.
Menurutnya, pasar masih belum menunjukkan tanda-tanda penguatan berkelanjutan meskipun regulator telah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk memperbaiki persepsi dan kredibilitas pasar saham nasional.
Baca Juga: Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini 13 Februari 2026, Cek Support-Resistance dan Saham Pilihan Analis Sebelum MSCI mengumumkan keputusan final terkait status pasar saham Indonesia, risiko volatilitas
IHSG dinilai masih tinggi dengan potensi tekanan jual yang terus berlanjut dari investor asing.
Data BEI mencatat investor asing membukukan jual bersih sebesar Rp2,03 triliun hingga akhir pekan lalu. Secara kumulatif sejak awal 2026, nilai jual bersih asing telah mencapai Rp16,49 triliun.
Rully memperkirakan arah IHSG dalam jangka pendek masih berpotensi fluktuatif seiring ketidakpastian kebijakan global, termasuk dinamika arus modal internasional, prospek penurunan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, serta pergerakan harga komoditas dunia.
Dari sisi domestik, peluang penguatan
IHSG tetap terbuka apabila pemerintah dan regulator mampu memperkuat tata kelola serta meningkatkan likuiditas pasar. Stabilitas makroekonomi yang relatif terjaga, inflasi rendah, serta potensi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia juga dinilai dapat menjadi katalis positif bagi saham-saham berorientasi domestik.
Namun demikian, investor diperkirakan akan tetap selektif dalam mengambil posisi hingga terdapat kepastian mengenai status Indonesia dalam klasifikasi pasar MSCI serta arah kebijakan moneter global.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Penulis tidak bertanggung jawab atas risiko yang timbul dari keputusan investasi.
Baca Juga: Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini 12 Februari 2026, Target Tembus 8.440