digtara.com - Nilai tukar rupiah hari ini Kamis 19 Februari 2026 diperkirakan bergerak fluktuatif dan cenderung melemah di kisaran Rp16.880 hingga Rp16.920 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup terkoreksi 0,29 persen ke level Rp16.885 per
dolar AS pada Rabu (18/2/2026). Sementara itu, indeks
dolar AS yang mengukur pergerakan greenback terhadap sejumlah mata uang utama menguat 0,15 persen ke level 97,29.
Pelemahan tidak hanya dialami rupiah. Sejumlah mata uang Asia juga tertekan, seperti yen Jepang yang turun 0,23 persen, dolar Singapura melemah 0,09 persen, dolar Taiwan terkoreksi 0,12 persen, dan yuan China turun 0,05 persen.
Sebaliknya, peso Filipina menguat 0,17 persen, rupee India naik 0,02 persen, ringgit Malaysia terapresiasi 0,23 persen, dan baht Thailand menguat 0,06 persen.
Baca Juga: Kurs Rupiah vs Dolar AS 18 Februari 2026: Prediksi Rp16.830-16.860, Faktor Inflasi AS Tekan Sentimen Global Dorong Penguatan Dolar ASDirektur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan penguatan dolar AS dipengaruhi perkembangan pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat terkait isu nuklir. Meski dikabarkan ada kemajuan, sebagian analis masih bersikap skeptis terhadap hasil perundingan tersebut.
Pasar energi turut mencermati perkembangan ini karena Iran merupakan produsen minyak utama yang berada di jalur strategis Selat Hormuz.
Di sisi lain, pelaku pasar juga menanti risalah rapat kebijakan Januari dari Federal Reserve. Dokumen tersebut dinilai dapat memberikan petunjuk arah kebijakan suku bunga dan potensi pelonggaran moneter ke depan.
Investor juga menunggu rilis data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi AS atau PCE yang menjadi indikator inflasi acuan The Fed. Data tersebut diperkirakan memengaruhi ekspektasi suku bunga global.
Defisit APBN Jadi Perhatian Pasar
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini 13 Februari 2026, Diproyeksi Melemah ke Rp16.850 Dari dalam negeri, isu defisit APBN turut menjadi sorotan. Ibrahim menilai pengelolaan fiskal yang kurang cermat berpotensi meningkatkan ketergantungan pada pembiayaan utang dan menunda reformasi struktural.
Meskipun defisit masih berada di bawah ambang batas 3 persen, ruang fiskal dinilai semakin terbatas. Kondisi ini bukan sekadar persoalan rasio, melainkan juga mencerminkan kemampuan APBN dalam meredam guncangan eksternal.
Jika penerimaan negara belum optimal dan keseimbangan primer masih defisit, maka tekanan eksternal seperti kenaikan imbal hasil obligasi, pelemahan rupiah, serta arus modal keluar berpotensi langsung membebani kas negara melalui kenaikan biaya bunga dan kebutuhan pembiayaan baru.
Dengan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut, pergerakan rupiah terhadap
dolar AS hari ini diperkirakan masih volatil dengan kecenderungan melemah terbatas.