digtara.com -Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksi masih berada dalam tekanan pada perdagangan hari ini, Rabu (25/2/2026), setelah ditutup melemah pada sesi sebelumnya.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah ke level Rp16.829 per dolar AS pada Selasa (24/2/2026). Sementara itu, indeks dolar AS tercatat melemah 0,21% ke posisi 97,91.
Proyeksi Pergerakan Rupiah 25 Februari 2026
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan nilai tukar rupiah hari ini cenderung melemah dan berpotensi ditutup di kisaran Rp16.830–Rp16.860 per dolar AS.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini 24 Februari 2026, Bergerak di Rentang Rp16.750–Rp16.900 Menurutnya, terdapat sejumlah sentimen global dan domestik yang membayangi pergerakan rupiah.
Sentimen Global: Pembicaraan Nuklir Iran dan Kebijakan Tarif Trump
Dari eksternal, sentimen datang dari rencana pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran yang akan memasuki putaran ketiga di Jenewa. AS mendorong Iran menghentikan program nuklirnya, sementara Iran membantah tengah mengembangkan senjata atom.
Di sisi lain, kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump kembali menjadi perhatian pasar. Trump memperingatkan negara-negara agar tidak menarik diri dari kesepakatan perdagangan baru dengan AS setelah Mahkamah Agung membatalkan tarif daruratnya.
Trump juga menyatakan akan menaikkan tarif impor sementara dari 10% menjadi 15% untuk seluruh impor AS, sesuai batas maksimum yang diizinkan undang-undang perdagangan. Kebijakan ini dinilai berpotensi meningkatkan ketidakpastian global dan mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Sentimen Domestik: Realisasi Utang APBN Januari 2026
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini Senin 23 Februari 2026 Diprediksi Melemah, Ini Sentimennya Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari realisasi pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah tercatat menarik utang baru sebesar Rp127,3 triliun sepanjang Januari 2026.
Angka tersebut setara 15,3% dari target pembiayaan utang dalam APBN 2026 yang mencapai Rp832,2 triliun. Sementara itu, pembiayaan non-utang tercatat minus Rp22,2 triliun atau 15,6% dari target minus Rp145,1 triliun.
Secara keseluruhan, realisasi pembiayaan hingga 31 Januari 2026 mencapai Rp105,6 triliun atau 15,2% dari outlook Rp689,15 triliun.
Kombinasi sentimen global dan domestik tersebut membuat nilai tukar rupiah berpotensi tetap fluktuatif dalam jangka pendek, dengan pelaku pasar mencermati perkembangan geopolitik dan kebijakan fiskal pemerintah.