digtara.com -Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diproyeksikan melanjutkan pelemahan pada perdagangan Rabu, 4 Maret 2026. Tekanan eksternal dari konflik geopolitik di Timur Tengah hingga penguatan dolar AS menjadi sentimen utama yang membayangi pasar keuangan.
Berdasarkan data Bloomberg L.P., rupiah pada perdagangan sebelumnya terdepresiasi 0,02 persen atau 4 poin ke level Rp16.872 per
dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS tercatat menguat 0,68 persen ke posisi 99,05 pada perdagangan pagi ini, mencerminkan penguatan mata uang Negeri Paman Sam terhadap sejumlah mata uang global.
Proyeksi Rupiah Hari Ini
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini 27 Februari 2026, Melemah ke Rp16.787 Imbas Konflik AS-Iran Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun berisiko ditutup melemah pada kisaran Rp16.870 hingga Rp16.910 per
dolar AS.
Menurutnya, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang masih belum kondusif.
Sentimen Global: Konflik Timur Tengah dan Kebijakan The Fed
Dari sisi global, eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menjadi faktor dominan. Serangan udara yang saling berbalas meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan dan jalur distribusi energi global.
Ketegangan meningkat setelah laporan media Iran menyebut pejabat senior Garda Revolusi Iran menyatakan penutupan Selat Hormuz. Jalur tersebut diketahui menjadi lintasan sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini Jumat 27 Februari 2026, Diproyeksi Melemah ke Rp16.780 Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati pernyataan pejabat Federal Reserve yang cenderung agresif. Sikap hawkish The Fed berpotensi memperkuat
dolar AS atau greenback.
Fokus investor pekan ini juga tertuju pada data tenaga kerja AS, termasuk laporan ADP Employment Change dan Nonfarm Payrolls (NFP), yang akan memengaruhi ekspektasi arah kebijakan suku bunga The Fed.
Sentimen Domestik: Neraca Dagang Surplus
Dari dalam negeri, pasar merespons data perdagangan terbaru. Badan Pusat Statistik melaporkan neraca dagang Indonesia pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar 0,95 miliar
dolar AS.
Indonesia telah membukukan surplus neraca perdagangan selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Meski demikian, sentimen positif ini belum cukup kuat untuk menahan tekanan eksternal terhadap rupiah.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Kamis 26 Februari 2026
Outlook Rupiah
Dengan kombinasi penguatan
dolar AS, eskalasi konflik global, dan sikap agresif The Fed, rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan hari ini.
Pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan geopolitik serta rilis data ekonomi AS yang berpotensi memicu volatilitas lebih lanjut di pasar valuta asing.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini 27 Februari 2026, Melemah ke Rp16.787 Imbas Konflik AS-Iran