digtara.com -Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada Senin, 16 Maret 2026 diperkirakan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di kisaran Rp16.960 hingga Rp17.020 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat, 13 Maret 2026 pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup melemah sekitar 0,38 persen ke level Rp16.958 per
dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS tercatat menguat sekitar 0,45 persen ke posisi 100,18 yang menunjukkan penguatan mata uang Amerika terhadap sejumlah mata uang global.
Baca Juga: Kurs Dollar Hari Ini 14 Maret 2026: Rupiah Tertekan, USD Mendekati Rp17.000 Mata Uang Asia Turut Melemah
Pelemahan rupiah terjadi seiring dengan pergerakan sejumlah mata uang Asia yang juga mengalami tekanan terhadap dolar AS.
Beberapa mata uang yang tercatat melemah antara lain yen Jepang, dolar Hong Kong, dolar Singapura, dolar Taiwan, dan won Korea Selatan.
Selain itu, mata uang kawasan Asia lainnya seperti rupee India, yuan China, ringgit Malaysia, hingga baht Thailand juga mengalami penurunan terhadap dolar AS.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang Asia terjadi secara luas seiring penguatan dolar di pasar global.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 11 Maret 2026 Menguat, Bergerak di Kisaran Rp16.800–Rp16.950 per Dolar AS Harga Minyak Dunia Meningkat
Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa salah satu faktor utama yang mempengaruhi pergerakan pasar adalah lonjakan harga minyak dunia.
Kenaikan harga minyak dipicu pernyataan pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, yang menyebut bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Jika jalur tersebut terganggu, pasokan energi global dapat terdampak signifikan sehingga memicu lonjakan harga minyak dunia.
Harga minyak mentah Brent, yang menjadi patokan global, tercatat berada di sekitar 100 dolar AS per barel.
Baca Juga: Kurs Dollar Hari Ini 10 Maret 2026: Rupiah di Rp16.900, Akankah Tembus Rp17.000?
Menurut Ibrahim, lonjakan harga minyak tersebut dapat memicu tekanan inflasi di berbagai negara.
"Para pelaku pasar khawatir lonjakan harga minyak yang besar akan berdampak ke seluruh dunia dalam bentuk guncangan inflasi," ujarnya.
Dampak Kebijakan Suku Bunga Global
Kondisi tersebut juga dapat mempengaruhi kebijakan bank sentral global, termasuk Federal Reserve.
Jika inflasi kembali meningkat, bank sentral Amerika Serikat berpotensi menunda rencana penurunan suku bunga.
Suku bunga yang lebih tinggi biasanya membuat aset berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi investor global.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 9 Maret 2026 Diprediksi Melemah ke Rp17.010 per Dolar AS Akibatnya, aliran investasi asing dapat meningkat ke Amerika Serikat dan memperkuat posisi dolar di pasar keuangan internasional.
Faktor Domestik Tekan Rupiah
Dari dalam negeri, pasar juga mencermati sejumlah faktor yang berpotensi mempengaruhi pergerakan rupiah.
Salah satunya adalah meningkatnya beban pembayaran bunga utang pemerintah yang dinilai dapat membatasi ruang fiskal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Risiko pembengkakan beban bunga utang juga meningkat setelah kebijakan tukar guling utang atau debt switch antara Bank Indonesia dan pemerintah.
Selain itu, tensi geopolitik global yang masih tinggi juga berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil atau yield surat berharga negara Indonesia.
Baca Juga: Rupiah Diprediksi Melemah Hari Ini 6 Maret 2026, Tensi Timur Tengah Tekan Nilai Tukar Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang terus dipantau pelaku pasar dalam menentukan arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.