digtara.com -Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan bergerak melemah pada kisaran Rp16.980 hingga Rp17.020 per dolar AS pada perdagangan Kamis (2/4/2026).
Sebelumnya, rupiah ditutup menguat 0,34% ke level Rp16.983 per
dolar AS pada Rabu (1/4/2026). Sementara itu, indeks
dolar AS tercatat melemah 0,31% ke posisi 99,64.
Mata Uang Asia Bergerak Variatif
Pergerakan mata uang di kawasan Asia menunjukkan tren bervariasi. Yen Jepang dan dolar Hong Kong masing-masing menguat tipis, diikuti penguatan dolar Singapura, dolar Taiwan, dan won Korea Selatan.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 31 Maret 2026 Melemah, Berpotensi Tembus Rp17.100 per Dolar AS Selain itu, peso Filipina, yuan China, ringgit Malaysia, serta baht Thailand juga kompak menguat terhadap
dolar AS.
Sentimen Global: Konflik Timur Tengah
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebutkan sentimen global masih menjadi faktor utama pergerakan rupiah.
Salah satunya berasal dari pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang membuka kemungkinan penarikan diri Washington dari konflik dalam dua hingga tiga pekan ke depan.
Namun, laporan The Wall Street Journal menyebutkan bahwa AS juga mempertimbangkan mengakhiri kampanye militernya terhadap Iran meskipun Selat Hormuz belum sepenuhnya terbuka.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan kesiapan negaranya untuk mengakhiri konflik, meskipun tetap dengan sejumlah syarat.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 30 Maret 2026 Diproyeksi Melemah, Bisa Tembus Rp17.100 per Dolar AS Meski ada sinyal diplomasi, pasar masih bersikap hati-hati karena gangguan pasokan energi global masih berlangsung, terutama akibat terbatasnya aktivitas di Selat Hormuz—jalur vital bagi sekitar 20% distribusi minyak dunia.
Sentimen Domestik: Surplus Neraca Dagang
Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik melaporkan neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar US$1,27 miliar pada Februari 2026.
Capaian ini memperpanjang tren surplus selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus terutama ditopang oleh sektor nonmigas seperti:
Lemak dan minyak hewani/nabatiBahan bakar mineralBesi dan bajaNilai ekspor Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar US$22,17 miliar (naik 1,01% yoy), sementara impor mencapai US$20,89 miliar (naik 10,85% yoy).
PMI Manufaktur Melandai
Sementara itu, data dari S&P Global menunjukkan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 50,1 pada Maret 2026 dari sebelumnya 53,8.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 31 Maret 2026 Melemah, Berpotensi Tembus Rp17.100 per Dolar AS Meski melandai, angka tersebut masih berada di zona ekspansi, menandakan aktivitas manufaktur tetap tumbuh meskipun dengan laju yang lebih terbatas.