digtara.com -Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup menguat pada perdagangan Kamis, 9 April 2026. Meski penguatannya tidak sebesar hari sebelumnya, pergerakan indeks tetap positif di tengah tekanan sentimen global.
Berdasarkan data dari IDX Mobile,
IHSG naik 0,39 persen atau 28,38 poin ke level 7.307,59. Sebanyak 296
saham menguat, 389
saham melemah, dan 273
saham stagnan.
Big Caps Jadi Penopang IHSG
Penguatan IHSG terjadi meskipun jumlah saham yang melemah lebih banyak. Hal ini didorong oleh kenaikan signifikan pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Baca Juga: IHSG Menguat 4,42% ke 7.279, Sentimen Gencatan Senjata AS-Iran Dorong Saham Big Caps Saham PT Barito Renewables Energy Tbk melonjak 14 persen ke Rp5.700. Kemudian, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk menguat 16,42 persen ke Rp3.120, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk naik 16,07 persen ke Rp5.200.
Ketiga saham tersebut masuk dalam jajaran emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia, sehingga memberikan dorongan signifikan terhadap indeks.
Di sisi lain, saham perbankan justru mengalami tekanan. PT Bank Central Asia Tbk turun 4,07 persen ke Rp6.475, sementara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melemah 1,80 persen ke Rp3.280.
Analisis Teknikal dan Volatilitas Pasar
Tim riset Phintraco Sekuritas menyebutkan bahwa secara teknikal, momentum penguatan IHSG mulai melemah.
Hal ini terlihat dari histogram MACD yang menyempit serta stochastic RSI yang bergerak turun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase volatilitas tinggi dengan kecenderungan melemah.
Baca Juga: IHSG Melemah ke 6.971 pada 7 April 2026, Saham Big Caps dan Sentimen Global Tekan Pasar Sentimen Global Tekan Pergerakan IHSG
Pergerakan IHSG turut dipengaruhi oleh perkembangan konflik di Timur Tengah. Meskipun terdapat gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, ketegangan masih berlanjut akibat serangan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon.
Ketidakpastian juga terjadi di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi global. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi dunia.
Harga minyak tercatat naik sekitar 2 hingga 3 persen dan berpotensi kembali menembus level 100 dolar AS per barel.
Dampak ke Rupiah dan Cadangan Devisa
Kenaikan harga minyak dunia memberikan tekanan terhadap perekonomian domestik, terutama pada stabilitas nilai tukar rupiah.
Baca Juga: Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini, 2 April 2026: Big Caps Dorong Penguatan
Phintraco Sekuritas mencatat cadangan devisa Indonesia turun menjadi 148,2 miliar dolar AS pada Maret 2026, dari sebelumnya 151,9 miliar dolar AS pada Februari 2026.
Penurunan ini merupakan yang terendah sejak Juli 2024, yang disebabkan oleh intervensi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global.
Penguatan
IHSG pada perdagangan hari ini menunjukkan ketahanan pasar di tengah tekanan global. Namun, tingginya volatilitas dan ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai investor.
Disclaimer:
Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.
Baca Juga: IHSG Menguat 4,42% ke 7.279, Sentimen Gencatan Senjata AS-Iran Dorong Saham Big Caps