digtara.com -Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan melemah pada perdagangan Jumat, 10 Juni 2026. Rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.090 hingga Rp17.140 per dolar AS di tengah tekanan sentimen global.
Berdasarkan data dari TradingView, pada Kamis, 9 Juni 2026, rupiah ditutup stagnan di level Rp17.087 per
dolar AS. Sementara itu, indeks
dolar AS tercatat melemah tipis 0,08 persen ke posisi 99,05.
Pergerakan Mata Uang Asia Beragam
Sejumlah mata uang di kawasan Asia menunjukkan pergerakan bervariasi terhadap dolar AS. Yen Jepang melemah 0,30 persen, yuan China turun 0,13 persen, dan dolar Singapura melemah 0,13 persen.
Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp17.040 per Dolar AS Hari Ini, Sentimen Global Masih Bayangi Selain itu, won Korea Selatan terkoreksi 0,16 persen, ringgit Malaysia melemah 0,25 persen, peso Filipina turun 0,49 persen, serta baht Thailand melemah 0,14 persen.
Sentimen Timur Tengah Tekan Rupiah
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut bahwa gangguan di Selat Hormuz masih berlanjut dan menjadi faktor utama tekanan terhadap pasar keuangan global.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat, terutama setelah konflik antara Iran dan Israel yang berdampak pada jalur distribusi energi dunia.
Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar seperlima pasokan minyak global dilaporkan masih mengalami pembatasan. Meskipun terdapat gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran, gangguan distribusi energi belum sepenuhnya pulih.
Kondisi ini memicu ketidakpastian di pasar dan berdampak langsung pada pergerakan nilai tukar, termasuk rupiah.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 8 April 2026 Diprediksi Melemah, Bergerak di Rp17.050–Rp17.200 per Dolar AS Kebijakan The Fed dan Dampaknya
Dari sisi global, risalah rapat Federal Reserve (FOMC) menunjukkan bahwa pejabat The Fed masih membuka peluang penurunan suku bunga pada tahun ini.
Namun, ketidakpastian tetap tinggi akibat konflik geopolitik dan tekanan inflasi yang masih berada di atas target.
Para pembuat kebijakan menyatakan akan tetap fleksibel dalam merespons dinamika ekonomi, termasuk dampak perang terhadap inflasi dan pasar tenaga kerja.
Proyeksi Ekonomi Indonesia Direvisi
Dari dalam negeri, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 4,7 persen, turun dari estimasi sebelumnya 4,8 persen.
Baca Juga: Prediksi Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 7 April 2026 Diprediksi Melemah, Bergerak di Rp17.000–Rp17.100 per Dolar AS
Meski demikian, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik yang berada di level 4,2 persen.
Sementara itu, OECD juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,8 persen dari sebelumnya 5 persen.
Revisi ini dipengaruhi oleh tekanan global seperti lonjakan harga energi, konflik geopolitik, serta ketidakpastian kebijakan ekonomi dunia.
Pelemahan rupiah hari ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor global, terutama ketegangan di Timur Tengah dan gangguan distribusi energi dunia.
Investor disarankan untuk mencermati perkembangan geopolitik dan kebijakan global yang dapat memengaruhi pergerakan pasar keuangan dalam jangka pendek.