digtara.com -Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada Senin, 13 April 2026, diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di tengah tekanan sentimen global.
Berdasarkan data TradingView, rupiah ditutup di level Rp17.100 per dolar AS atau menguat tipis 0,05% dibandingkan penutupan sebelumnya. Meski demikian, sepanjang perdagangan, pergerakan mata uang Garuda cenderung tidak stabil.
Rupiah Menguat Saat Mata Uang Asia Melemah
Penguatan rupiah terjadi ketika mayoritas mata uang Asia justru mengalami tekanan terhadap dolar AS. Beberapa di antaranya:
Baca Juga: Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.200 per Dolar AS Hari Ini 13 April 2026, Dipicu Geopolitik dan The Fed Yen Jepang melemah 0,26%
Yuan China turun 0,09%
Dolar Singapura melemah 0,18%
Won Korea turun 0,18%
Dolar Taiwan melemah 0,20%
Rupee India terkoreksi 0,30%
Baca Juga: Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.140 per Dolar AS, Sentimen Timur Tengah Tekan Pasar Di kawasan Asia Tenggara, tekanan juga terlihat pada sejumlah mata uang seperti:
Baht Thailand melemah 0,71%
Peso Filipina turun 0,40%
Ringgit Malaysia melemah 0,27%
Hal ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang emerging markets masih cukup besar akibat dinamika global.
Peran Bank Indonesia Tahan Pelemahan Rupiah
Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp17.040 per Dolar AS Hari Ini, Sentimen Global Masih Bayangi
Analis dari Doo Financial Futures Lukman Leong menyebut rupiah sempat tertekan pada awal perdagangan sebelum akhirnya stabil.
Menurutnya, pergerakan rupiah berbalik arah setelah Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Bank sentral menyatakan akan mengoptimalkan instrumen moneter secara terukur, berkelanjutan, dan tepat waktu guna meredam volatilitas pasar.
Selain itu, data penjualan ritel domestik yang lebih kuat dari ekspektasi turut memberikan sentimen positif terhadap rupiah. Hal ini mencerminkan daya tahan konsumsi masyarakat di tengah tekanan global.
Sentimen Global Masih Membayangi
Dari sisi eksternal, pelaku pasar masih mencermati perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Meski ketegangan mulai mereda, ketidakpastian global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 8 April 2026 Diprediksi Melemah, Bergerak di Rp17.050–Rp17.200 per Dolar AS Di sisi lain, indeks dolar AS dan harga minyak mentah tercatat sedikit melemah, memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih stabil.
Namun, kondisi tersebut belum cukup kuat untuk mendorong penguatan signifikan.
Prospek Rupiah Masih Fluktuatif
Ke depan, rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. Tingginya sensitivitas terhadap sentimen global membuat pergerakan mata uang ini cenderung mudah tertekan.
Meski demikian, intervensi aktif dari Bank Indonesia diyakini mampu menahan pelemahan lebih dalam dan menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global.