digtara.com -Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Kamis, 23 April 2026 diperkirakan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di kisaran Rp17.180 hingga Rp17.220 per dolar AS.
Berdasarkan data dari TradingView, rupiah ditutup melemah sebesar 0,22 persen atau 38 poin ke level Rp17.181 per
dolar AS pada perdagangan Rabu (22/4/2026). Pada saat yang sama, indeks
dolar AS justru tercatat turun 0,11 persen ke posisi 98,28.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan bahwa pergerakan rupiah saat ini dipengaruhi berbagai sentimen global dan domestik yang kompleks.
Sentimen Global Masih Membayangi Rupiah
Baca Juga: Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.180 per Dolar AS Hari Ini 22 April 2026, Ini Penyebabnya Dari sisi global, ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor utama yang menekan nilai tukar. Donald Trump menyatakan akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu untuk membuka ruang negosiasi damai.
Namun di sisi lain, Amerika Serikat tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran, yang oleh pemerintah Iran dianggap sebagai tindakan agresif. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian tinggi di pasar keuangan global.
Selain itu, aktivitas pengiriman energi melalui Selat Hormuz yang menyuplai sekitar 20 persen kebutuhan minyak dan gas dunia dilaporkan sempat terganggu, sehingga memicu lonjakan harga energi global.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral global, termasuk The Fed.
Tekanan Domestik dari Utang dan Fiskal
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah. Pada 2026, jatuh tempo utang pemerintah tercatat mencapai Rp833,96 triliun, tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Baca Juga: Rupiah Berisiko Melemah ke Rp17.200, Sentimen Global Tekan Pasar Angka ini bahkan melampaui jatuh tempo tahun sebelumnya yang berada di level Rp800,33 triliun. Lonjakan tersebut merupakan akumulasi penerbitan utang pada periode sebelumnya, termasuk kebijakan penanganan pandemi COVID-19.
Ibrahim menilai kondisi ini menjadi tantangan serius dalam menjaga stabilitas fiskal di tengah ketidakpastian global.
Kebijakan Suku Bunga Bank Indonesia
Sementara itu, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen.
Selain itu, suku bunga Deposit Facility tetap berada di level 3,75 persen dan Lending Facility di level 5,5 persen.
Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mengendalikan inflasi di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.
Proyeksi Pergerakan Rupiah
Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan berada dalam tekanan dalam jangka pendek.
Baca Juga: Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.180 per Dolar AS Hari Ini 22 April 2026, Ini Penyebabnya
Nilai tukar rupiah hari ini berpotensi bergerak fluktuatif, namun tetap cenderung melemah di kisaran Rp17.180 hingga Rp17.220 per
dolar AS.