digtara.com -Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mencatatkan tekanan signifikan pada perdagangan Kamis, 30 April 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 0,12 persen ke level Rp17.346 per dolar AS, menjadi titik terlemah sepanjang sejarah.
Sepanjang sesi perdagangan, rupiah sempat berfluktuasi di kisaran Rp17.338 per
dolar AS sebelum akhirnya menetap di level penutupan tersebut. Angka ini sekaligus menembus batas psikologis Rp17.300 yang sebelumnya menjadi perhatian pelaku pasar.
Tekanan Global Picu Pelemahan Rupiah
Pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah berdampak langsung pada lonjakan harga energi dunia.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.326 per Dolar AS, Sentimen Global dan Domestik Tekan Kurs Harga minyak mentah acuan Brent bahkan menembus level US$109 per barel. Kondisi ini memperbesar kebutuhan impor energi Indonesia, sehingga meningkatkan permintaan
dolar AS di pasar domestik.
Selain itu, kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed yang cenderung hawkish turut memperkuat dolar AS. Ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka panjang mendorong arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kinerja Rupiah Lebih Buruk dari Negara Emerging Lain
Dalam periode satu tahun terakhir hingga April 2026, rupiah tercatat melemah sekitar 9,6 persen. Angka ini bahkan lebih buruk dibandingkan beberapa mata uang emerging markets seperti Zimbabwe Gold (ZiG) dan naira Nigeria.
Performa tersebut menjadi sorotan pasar karena kedua mata uang tersebut sebelumnya dikenal memiliki volatilitas tinggi, namun kini menunjukkan kinerja relatif lebih stabil dibanding rupiah.
Baca Juga: Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.300 per Dolar AS Hari Ini 29 April 2026, Tertekan Sentimen Global Faktor Domestik Perburuk Sentimen Pasar
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipicu kekhawatiran investor terhadap fundamental ekonomi. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai sentimen domestik berperan besar dalam pelemahan kali ini.
Salah satu faktor yang disorot adalah keputusan Bank Indonesia yang menahan suku bunga acuan di tengah tekanan global. Selain itu, belum adanya langkah strategis pemerintah dalam efisiensi anggaran turut menambah ketidakpastian.
Cadangan devisa Indonesia juga mengalami penurunan menjadi US$148,2 miliar pada akhir Maret 2026, turun dari US$156,5 miliar pada akhir 2025. Penurunan ini dipicu oleh intervensi bank sentral untuk menjaga stabilitas rupiah.
Bank Indonesia Siapkan Langkah Stabilitas
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa otoritas moneter akan terus melakukan intervensi di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Ia juga menyebut bahwa secara fundamental, nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai wajarnya atau undervalued. Meski demikian, tekanan eksternal dan sentimen pasar masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
Dengan kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, pergerakan rupiah diperkirakan akan tetap volatil, sementara pelaku pasar menunggu arah kebijakan lanjutan baik dari dalam negeri maupun bank sentral global.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.326 per Dolar AS, Sentimen Global dan Domestik Tekan Kurs