digtara.com -Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026. Pelemahan mata uang Garuda dipicu kombinasi sentimen global mulai dari penguatan dolar AS, lonjakan harga minyak dunia, hingga meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi geopolitik internasional.
Petugas di salah satu tempat penukaran mata uang asing di Jakarta terlihat menunjukkan uang rupiah dan
dolar AS di tengah pelemahan kurs yang terjadi hari ini.
Berdasarkan data perdagangan, rupiah melemah sebesar 60 poin atau 0,34 persen menjadi Rp17.716 per dolar AS.
Sentimen Global Tekan Nilai Tukar Rupiah
Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring menguatnya dolar AS di pasar global. Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia turut memperburuk sentimen pasar terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Pelaku pasar juga mencermati meningkatnya tensi geopolitik internasional yang mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti dolar AS.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Diprediksi Melemah ke Rp17.750 per Dolar AS, Sentimen Global Jadi Tekanan
Kondisi tersebut memicu tekanan jual di pasar keuangan domestik dan meningkatkan arus keluar modal asing dari pasar Indonesia.
Pasar Tunggu Keputusan Suku Bunga Bank Indonesia
Investor kini menanti keputusan suku bunga acuan dari Bank Indonesia yang diperkirakan akan mengambil langkah stabilisasi guna menjaga nilai tukar rupiah tetap terkendali.
Sebelumnya, Bank Indonesia menegaskan akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing dan pasar obligasi untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global yang meningkat.
Intervensi dilakukan melalui pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Harga Minyak dan Arus Modal Asing Jadi SorotanKenaikan harga minyak dunia dinilai menjadi salah satu faktor utama yang memperburuk tekanan terhadap rupiah. Harga energi yang tinggi meningkatkan kekhawatiran inflasi global sekaligus memperbesar risiko perlambatan ekonomi.
Di sisi lain, arus keluar modal asing dari pasar domestik juga masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. Investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Analis memperkirakan volatilitas rupiah masih akan berlangsung dalam jangka pendek hingga terdapat kepastian arah kebijakan moneter global maupun langkah stabilisasi lanjutan dari Bank Indonesia.