digtara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026 diperkirakan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di tengah tekanan pasar global dan sentimen domestik.
Pelaku pasar saat ini menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas rupiah dan meredam tekanan di pasar keuangan.
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.700 per Dolar AS
Berdasarkan data TradingView, rupiah ditutup melemah sebesar 0,22 persen ke level Rp17.700 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026.
Analis memperkirakan rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS.
Pelemahan mata uang Garuda terjadi seiring depresiasi mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.716 per Dolar AS, Sentimen Global dan Harga Minyak Jadi Tekanan
Beberapa mata uang yang turut melemah antara lain:
Yen Jepang turun 0,22 persenYuan China melemah 0,05 persenDolar Singapura turun 0,22 persenWon Korea Selatan melemah 1,24 persenDolar Taiwan turun 0,33 persenRinggit Malaysia melemah 0,03 persenPeso Filipina turun 0,20 persenBaht Thailand melemah 0,31 persenPasar Fokus ke Keputusan Suku Bunga Bank IndonesiaAnalis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai tensi geopolitik global mulai mereda, namun tekanan domestik masih membatasi penguatan rupiah.
Aksi jual investor di pasar saham dan obligasi domestik masih berlangsung sehingga memicu tekanan terhadap mata uang Indonesia.
Pasar kini mengantisipasi keputusan Bank Indonesia yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps).
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional.
Selain keputusan suku bunga, investor juga menunggu sinyal kebijakan moneter dari Bank Indonesia. Sikap yang lebih hawkish diyakini dapat menjadi sentimen positif bagi rupiah dalam jangka pendek.
Pemerintah Klaim Tekanan Pasar Obligasi Masih Terkendali
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut tekanan jual di pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih relatif kecil dan dalam kondisi terkendali.
Pemerintah bahkan telah menyiapkan dana sekitar Rp2 triliun per hari untuk aksi buyback atau pembelian kembali obligasi negara di pasar sekunder.
Namun realisasi pembelian disebut masih jauh di bawah target karena tekanan jual investor tidak sebesar yang diperkirakan.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Diprediksi Melemah ke Rp17.750 per Dolar AS, Sentimen Global Jadi Tekanan Menurut data Kementerian Keuangan, arus modal asing keluar dari pasar SBN mencapai sekitar Rp20 triliun sejak awal tahun hingga 24 April 2026.
Rupiah Masih Dibayangi Capital Outflow
Arus modal keluar atau capital outflow dari pasar keuangan domestik masih menjadi tantangan utama bagi stabilitas rupiah.
Investor asing cenderung mengurangi eksposur terhadap aset negara berkembang di tengah ketidakpastian global dan penguatan dolar AS.
Meski demikian, pemerintah dan Bank Indonesia memastikan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter terus diperkuat untuk menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.