digtara.com -Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada perdagangan Rabu (3/6/2026).
Mata uang Garuda dibuka melemah tajam nyaris menyentuh angka Rp 18.000 tepatnya pada level Rp17.910 per dolar Amerika Serikat (AS), memperpanjang tren pelemahan yang terjadi sejak awal Juni.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 71 poin atau sekitar 0,40 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.839 per dolar AS.
Pelemahan tersebut menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia pada perdagangan pagi.
Tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah.
Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia sekaligus meningkatkan permintaan investor terhadap aset-aset safe haven berbasis dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Diprediksi Masih Fluktuatif, Berpotensi Melemah pada Perdagangan Rabu
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan
rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dibandingkan sentimen domestik.
"Rupiah melemah terhadap dolar AS akibat eskalasi baru di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pasar terhadap prospek perdamaian dan mendorong kenaikan harga minyak dunia," ujarnya.
Menurut Lukman, ketidakpastian geopolitik membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset-aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
Akibatnya, permintaan terhadap dolar AS meningkat dan menekan nilai tukar rupiah.
Di kawasan Asia, pelemahan rupiah tercatat menjadi yang terdalam.
Ringgit Malaysia menyusul dengan koreksi 0,25 persen, diikuti baht Thailand yang melemah 0,09 persen. Yuan China turun 0,05 persen, sementara peso Filipina terkoreksi 0,02 persen.
Sebaliknya, sejumlah mata uang Asia lainnya mampu mencatat penguatan terhadap dolar AS.
Dolar Taiwan naik 0,12 persen, won Korea Selatan menguat 0,07 persen, dan yen Jepang bertambah 0,04 persen.
Dolar Singapura serta dolar Hong Kong juga mencatat kenaikan tipis masing-masing sebesar 0,02 persen dan 0,01 persen.
Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia berada di level 99,20. Meski sedikit turun dari posisi sebelumnya di 99,22, dolar AS masih menunjukkan dominasi yang cukup kuat sehingga terus memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk
rupiah.
Pelaku pasar kini menantikan perkembangan terbaru terkait konflik di Timur Tengah serta arah kebijakan moneter global yang diperkirakan akan menjadi faktor utama penentu pergerakan nilai tukar dalam beberapa waktu ke depan.