digtara.com - Nilai tukar rupiah melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Rabu (10/6/2026). Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.944 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 114 poin atau 0,63 persen dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya.
Pada awal perdagangan, rupiah sempat dibuka di level Rp17.900 per
dolar AS sebelum akhirnya ditutup sedikit melemah dari posisi pembukaan, namun tetap mencatat penguatan signifikan dibandingkan hari sebelumnya.
Sejumlah analis menilai penguatan rupiah kali ini didorong oleh sentimen positif dari dalam negeri, terutama setelah pemerintah memutuskan menaikkan harga Pertamax.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan kebijakan tersebut memberikan respons positif dari pelaku pasar karena dinilai mencerminkan langkah fiskal yang lebih rasional.
Menurutnya, penguatan rupiah berpotensi berlanjut pada perdagangan berikutnya selama tidak muncul tekanan eksternal yang signifikan, khususnya terkait konflik di Timur Tengah dan pergerakan harga minyak dunia.
"Momentum positif ini masih berpeluang berlanjut apabila tidak ada tekanan eksternal yang ekstrem, terutama dari perkembangan situasi di Timur Tengah dan harga minyak global," ujar Lukman.
Baca Juga: Rupiah Diproyeksikan Bergerak Fluktuatif, Berpotensi Melemah ke Rp18.100 per Dolar AS
Selain faktor kebijakan energi, Lukman menilai pasar juga merespons positif kemungkinan Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi.
"Penguatan rupiah saat ini lebih banyak didukung sentimen domestik, terutama meningkatnya ekspektasi bahwa Bank Indonesia akan melanjutkan langkah pengetatan kebijakan moneter," katanya.
Pandangan serupa disampaikan analis Bank Woori Saudara, Rully Nova. Ia menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi memberikan dampak positif terhadap persepsi pasar terhadap kondisi fiskal pemerintah.
Menurut Rully, keputusan tersebut menunjukkan keberanian pemerintah mengambil kebijakan yang dinilai lebih rasional secara ekonomi, sekaligus mengurangi kekhawatiran terhadap beban fiskal di masa mendatang.
"Transmisi kebijakan kenaikan harga BBM nonsubsidi dipandang positif terhadap kesehatan fiskal pemerintah, sementara risiko sosial dan politik masih dianggap terkendali," ujarnya.
Penguatan rupiah juga terjadi di tengah pergerakan beragam mata uang Asia. Beberapa mata uang yang turut menguat terhadap
dolar AS antara lain won Korea Selatan yang naik 0,30 persen, peso Filipina 0,22 persen, baht Thailand 0,22 persen, rupee India 0,09 persen, serta dolar Hong Kong yang menguat tipis 0,01 persen.
Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia justru mengalami pelemahan. Dolar Taiwan tercatat menjadi mata uang dengan penurunan terdalam setelah terkoreksi 0,13 persen. Pelemahan juga dialami ringgit Malaysia sebesar 0,07 persen, dolar Singapura 0,06 persen, yuan China 0,03 persen, dan yen Jepang yang turun tipis 0,02 persen.
Penguatan rupiah ini menjadi sinyal positif bagi pasar keuangan domestik, meskipun investor masih akan mencermati perkembangan ekonomi global dan dinamika geopolitik yang berpotensi memengaruhi pergerakan mata uang dalam waktu dekat.