IHSG Berpeluang Lanjut Menguat, Investor Tetap Waspadai Aksi Profit Taking

Arie - Rabu, 17 Juni 2026 09:45 WIB
net
Ilustrasi.

digtara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih memiliki peluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu, 17 Juni 2026, meskipun ruang kenaikannya dinilai terbatas.

Optimisme pasar didukung oleh membaiknya sentimen global setelah muncul kabar mengenai rencana kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran, yang turut mendorong penurunan harga minyak dunia.

Pada perdagangan sebelumnya, Senin (15/6/2026), IHSG ditutup menguat 4,12 persen ke level 6.254,97. Kenaikan tersebut menjadi salah satu penguatan harian terbesar dalam beberapa waktu terakhir, bahkan indeks sempat menyentuh level 6.345 selama sesi perdagangan.

Tim riset Phintraco Sekuritas menilai prospek IHSG dalam jangka pendek masih cukup positif. Secara teknikal, indeks berhasil ditutup di atas rata-rata pergerakan (moving average), yang mengindikasikan perubahan tren ke arah yang lebih konstruktif.

Selain itu, indikator MACD masih menunjukkan histogram positif yang terus meningkat, menandakan momentum penguatan pasar belum sepenuhnya berakhir.

Meski demikian, pelaku pasar tetap diingatkan untuk mewaspadai potensi aksi ambil untung setelah reli yang cukup signifikan dalam beberapa sesi terakhir.

Baca Juga: IHSG Berpotensi Lanjut Menguat, Analis Rekomendasikan HMSP, INDY, NCKL, dan UNVR

"IHSG berpotensi bergerak dalam rentang 6.150 hingga 6.400 pada perdagangan berikutnya," tulis tim riset Phintraco Sekuritas dalam kajiannya.

Sentimen Global Jadi Pendorong UtamaPenguatan pasar saham domestik tidak lepas dari sentimen positif yang datang dari luar negeri. Investor merespons optimistis rencana penandatanganan kesepakatan damai antara AS dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Swiss pada 19 Juni 2026.

Harapan terciptanya stabilitas geopolitik di kawasan Timur Tengah turut meningkatkan keyakinan pasar terhadap normalisasi aktivitas perdagangan global, termasuk kelancaran jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.

Kondisi tersebut juga berdampak pada harga energi dunia. Harga minyak mentah mengalami koreksi cukup tajam, dengan West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dari 4 persen ke sekitar 80 dolar AS per barel. Sementara itu, Brent melemah ke kisaran 83 dolar AS per barel.

Bagi Indonesia, penurunan harga minyak menjadi sentimen positif karena berpotensi menekan inflasi, mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta membantu menjaga stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).


Rupiah Menguat, Sektor Bahan Baku Pimpin KenaikanSentimen positif juga tercermin di pasar valuta asing. Rupiah menguat 0,85 persen ke level Rp17.709 per dolar AS pada Senin (15/6/2026), seiring meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko di pasar domestik.

Di Bursa Efek Indonesia, sektor bahan baku menjadi pendorong utama penguatan IHSG dengan lonjakan mencapai 7,26 persen. Kinerja tersebut didukung optimisme terhadap pemulihan ekonomi global dan meningkatnya aktivitas industri.

Selain itu, saham-saham siklikal yang sensitif terhadap kondisi ekonomi dunia juga mencatatkan kenaikan seiring membaiknya prospek perdagangan internasional dan meredanya ketegangan geopolitik.

Dengan kombinasi sentimen global yang lebih kondusif, penguatan rupiah, serta dukungan teknikal yang masih positif, IHSG berpeluang melanjutkan tren penguatannya. Namun, investor tetap perlu mencermati potensi koreksi jangka pendek akibat aksi profit taking setelah reli yang cukup kuat dalam beberapa hari terakhir.


Tag:

Berita Terkait

Ekonomi

IHSG Berpotensi Lanjut Menguat, Analis Rekomendasikan HMSP, INDY, NCKL, dan UNVR

Ekonomi

IHSG Berpeluang Lanjut Menguat, Analis Rekomendasikan AMMN hingga WIFI

Ekonomi

IHSG Berpotensi Melemah, Analis Rekomendasikan Sejumlah Saham Pilihan

Ekonomi

IHSG Berisiko Melanjutkan Pelemahan, Analis Rekomendasikan Empat Saham Ini

Ekonomi

IHSG Berpotensi Masih Tertekan, Analis Rekomendasikan AADI hingga BMRI

Ekonomi

IHSG Menguat 1,11 Persen, Berpeluang Uji Level 6.484 pada Perdagangan Rabu