digtara.com - Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Selasa (23/6/2026). Rupiah diproyeksikan berada di kisaran Rp17.840 hingga Rp17.890 per dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data TradingView, rupiah ditutup melemah 39 poin atau 0,22 persen ke level Rp17.843 per
dolar AS pada perdagangan Senin (22/6/2026). Pada saat yang sama, indeks
dolar AS (DXY) menguat 0,14 persen ke posisi 100,98.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah masih dipengaruhi berbagai sentimen global, terutama perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Menurut Ibrahim, pasar sempat tertekan setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran terkait kemungkinan aksi militer tambahan apabila Teheran tidak mengambil langkah untuk mengendalikan kelompok Hizbullah di Lebanon.
Namun demikian, kekhawatiran pasar sedikit mereda setelah Amerika Serikat dan Iran menyelesaikan putaran pertama pembicaraan di Swiss. Dalam pertemuan tersebut, Iran disebut memperoleh pengecualian untuk ekspor minyak dan produk petrokimia, sehingga mengurangi kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.
Selain itu, kedua negara juga menyepakati nota kesepahaman untuk memperpanjang gencatan senjata yang telah berlangsung sejak April selama 60 hari ke depan.
Baca Juga: Rupiah Masih Tertekan Meski BI Kembali Naikkan Suku Bunga, Bergerak di Kisaran Rp17.790–Rp17.840 per Dolar AS
Dari sisi ekonomi global, pelaku pasar kini menantikan sejumlah data penting Amerika Serikat, termasuk pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 dan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (Core PCE). Investor juga mencermati arah kebijakan moneter bank sentral AS di bawah kepemimpinan barunya.
Sementara itu, dari dalam negeri, pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh perkembangan inflasi nasional. Bank Indonesia (BI) memperkirakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya Pertamax dan Pertamax Turbo, berpotensi memberikan tambahan tekanan terhadap inflasi.
Selain faktor harga energi, risiko lain yang perlu diwaspadai adalah imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga komoditas dan energi global yang berdampak pada harga-harga domestik.
Ibrahim juga menyoroti potensi dampak cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung mulai akhir Juni hingga Oktober atau November 2026. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu produksi pangan dan mendorong kenaikan harga pada kelompok volatile food.
Dengan berbagai sentimen tersebut, rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan dan berpotensi kembali ditutup melemah pada perdagangan hari ini.