digtara.com - Nilai tukar rupiah diperkirakan melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat, 26 Juni 2026, setelah berhasil ditutup menguat tipis pada sesi sebelumnya meski masih berada di dekat level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pada perdagangan Kamis (25/6), rupiah ditutup menguat 9 poin atau 0,05 persen ke posisi Rp17.943 per
dolar AS. Sementara itu, indeks
dolar AS (DXY) justru melemah 0,10 persen ke level 101,51.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah masih dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya hubungan antara AS dan Iran.
Menurutnya, kesepakatan penghentian konflik yang dicapai pekan lalu telah membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Kondisi tersebut membuat pasokan minyak dunia kembali lancar sehingga harga minyak mentah mengalami penurunan signifikan.
Ia mencatat sekitar 20 juta barel minyak telah melewati Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir, sehingga tekanan terhadap harga energi global mulai mereda.
Meski demikian, pasar masih menaruh perhatian pada arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Federal Reserve dinilai masih berpotensi mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi karena adanya perbedaan pandangan di antara para pejabat bank sentral. Sebagian anggota masih memperkirakan kenaikan suku bunga hingga akhir 2026, sementara mayoritas lainnya memilih mempertahankan tingkat suku bunga saat ini.
Baca Juga: Rupiah Masih Tertekan, Analis Prediksi BI Kembali Naikkan Suku Bunga
Selain kebijakan The Fed, pelaku pasar juga menunggu sejumlah data ekonomi penting AS, seperti Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Core PCE), pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I 2026, serta data klaim pengangguran mingguan.
Fundamental Domestik Masih TerjagaDari dalam negeri, Ibrahim menilai kondisi ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Ketergantungan impor minyak dari kawasan Timur Tengah kini hanya sekitar 20 persen setelah pemerintah melakukan diversifikasi sumber pasokan ke sejumlah negara Afrika seperti Nigeria dan Gabon, serta memperkuat kerja sama dengan Amerika Serikat dan Venezuela.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat mencapai 5,61 persen. Kondisi tersebut turut didukung cadangan devisa sebesar US$144,9 miliar hingga akhir Mei 2026, realisasi investasi Rp498,8 triliun sepanjang kuartal pertama, serta PMI Manufaktur yang masih berada di zona ekspansi di level 50.
Meski demikian, Ibrahim mengingatkan bahwa surplus neraca perdagangan Indonesia terus mengalami penyusutan meskipun masih mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut.
Proyeksi RupiahDengan mempertimbangkan berbagai sentimen global dan domestik, Ibrahim memperkirakan rupiah masih berpeluang menguat pada perdagangan hari ini.
Ia memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kisaran Rp17.940 hingga Rp17.990 per
dolar AS.