digtara.com - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Selasa (7/7/2026) dengan potensi bergerak di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.050 per dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan analisis Doo Financial Futures, rupiah pada perdagangan Senin (6/7/2026) ditutup melemah 0,18% ke level Rp17.995 per dolar AS, mendekati level psikologis Rp18.000.
Mayoritas Mata Uang Asia Ikut MelemahPelemahan rupiah sejalan dengan pergerakan sebagian besar mata uang Asia terhadap dolar AS.
Yen Jepang menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar setelah terdepresiasi 0,56%, disusul baht Thailand 0,39%, dolar Taiwan 0,29%, dan rupee India 0,23%.
Sementara itu, ringgit Malaysia melemah 0,17%, yuan China turun 0,16%, won Korea Selatan terkoreksi 0,13%, sedangkan dolar Singapura dan peso Filipina masing-masing turun 0,11%.
Di sisi lain, dolar Hong Kong menjadi satu-satunya mata uang yang menguat tipis sebesar 0,01% terhadap dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Berpeluang Menguat Pekan Ini, Data Ekonomi Domestik Jadi Penentu
Sentimen Domestik dan Global Masih Membebani RupiahAnalis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik.
Selain penguatan dolar AS, pasar masih mencermati peringatan dari Fitch Ratings mengenai potensi penurunan peringkat kredit Indonesia yang memicu sikap hati-hati investor terhadap aset domestik.
Menurut Lukman, pelaku pasar juga memilih menunggu sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis sepanjang pekan ini.
Data Cadangan Devisa Jadi SorotanPergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan akan dipengaruhi oleh rilis beberapa indikator ekonomi nasional, antara lain:
Cadangan devisa Indonesia.
Penjualan ritel.
Indeks kepercayaan konsumen.
Cadangan devisa menjadi perhatian utama karena tren penurunannya sebelumnya turut disoroti Fitch Ratings dalam evaluasi terhadap profil kredit Indonesia.
Dolar AS Masih Berpotensi MenguatDari sisi global, arah dolar AS akan dipengaruhi oleh rilis ISM Services PMI Amerika Serikat yang mengukur aktivitas sektor jasa.
Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Masih Tertekan, Berpotensi Bergerak di Kisaran Rp17.990-Rp18.050 per Dolar AS Apabila data tersebut kembali menunjukkan hasil di atas ekspektasi pasar,
dolar AS berpotensi melanjutkan penguatan sehingga tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, dapat berlanjut.
Dengan kombinasi sentimen domestik dan global tersebut, pelaku pasar diperkirakan akan tetap berhati-hati hingga rilis data ekonomi penting memberikan arah yang lebih jelas bagi pergerakan nilai tukar rupiah.