digtara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis, 23 Juli 2026 diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp17.920 hingga Rp17.970 per dolar AS.
Pada perdagangan Rabu (22/7/2026), rupiah ditutup melemah 65 poin ke level Rp17.920 per
dolar AS. Pelemahan ini dipengaruhi respons pasar terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2026.
Selain mempertahankan BI Rate, Bank Indonesia juga menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%.
BI Perluas Insentif untuk Menarik Dana AsingDirektur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai keputusan BI menahan suku bunga dibarengi dengan kebijakan insentif guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui peningkatan arus modal asing.
Menurutnya, BI memperluas berbagai kebijakan untuk mendorong masuknya investasi portofolio asing ke pasar keuangan domestik.
"Bank Indonesia memperluas kebijakan insentif dan sejumlah langkah lain untuk meningkatkan aliran dana asing, memperkuat stabilitas rupiah, memperdalam pasar uang dan pasar valuta asing, serta meningkatkan likuiditas," ujar Ibrahim.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Rabu 22 Juli 2026: Diproyeksi Bergerak Fluktuatif
Konflik AS-Iran Masih Membebani RupiahSelain faktor domestik, pergerakan rupiah juga dipengaruhi kondisi global. Ibrahim menjelaskan meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan.
Militer AS dilaporkan kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer Iran selama beberapa hari berturut-turut. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keamanan jalur distribusi energi dunia, khususnya Selat Hormuz.
Apabila konflik terus meningkat, harga minyak dunia berpotensi naik sehingga biaya impor energi Indonesia ikut meningkat. Kondisi ini dinilai dapat memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
Ekspektasi Kebijakan The Fed Masih Jadi SorotanPelaku pasar juga terus mencermati arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Lonjakan harga energi dinilai berpotensi meningkatkan inflasi global sehingga membuka peluang bank sentral AS mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Berdasarkan data Prime Terminal, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya mencapai sekitar 78%, sedangkan peluang kenaikan suku bunga pada September 2026 diperkirakan berada di kisaran 68%.
Kondisi tersebut diperkirakan masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.