digtara.com -Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini, Kamis (13/8/2026), diperkirakan bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah di rentang Rp17.870 hingga Rp17.940 per dolar AS.
Pergerakan rupiah masih menjadi perhatian pelaku pasar di tengah penguatan
dolar AS serta sejumlah sentimen global dan domestik yang memengaruhi pasar valuta asing.
Berdasarkan data RTI pada pukul 15.05 WIB, rupiah tercatat melemah 0,10 persen ke level Rp17.864 per dolar AS.
Rupiah Bergerak Beragam dengan Mata Uang AsiaPergerakan mata uang Asia pada perdagangan Kamis berlangsung bervariasi.
Sejumlah mata uang tercatat menguat terhadap dolar AS. Baht Thailand naik 0,16 persen, ringgit Malaysia menguat 0,08 persen, sedangkan rupee India naik 0,03 persen.
Di sisi lain, beberapa mata uang Asia mengalami pelemahan. Yuan China turun 0,02 persen, won Korea Selatan melemah 0,41 persen, dolar Singapura turun 0,06 persen, dan dolar Hong Kong terkoreksi 0,01 persen.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini 12 Agustus 2026, Simak Prediksinya
Sentimen Global Tekan RupiahDirektur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan indeks
dolar AS dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal.
Salah satunya adalah ketegangan yang masih berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut membuat aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz tetap minim dan meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan.
Pelaku pasar juga tengah menunggu rilis sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, terutama Indeks Harga Konsumen (CPI) dan data harga produsen.
Menurut Ibrahim, data inflasi AS akan menjadi salah satu indikator penting dalam membaca arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed.
Jika data inflasi lebih rendah dari perkiraan, tekanan bagi The Fed untuk memperketat kebijakan moneter dapat berkurang. Sebaliknya, data yang lebih tinggi dari ekspektasi berpotensi kembali meningkatkan spekulasi mengenai kenaikan suku bunga.
"Pelaku pasar cenderung menahan diri untuk mengambil posisi agresif menjelang rilis data CPI, dengan pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin pada bulan September berada di kisaran 50-50," kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (12/8/2026).
Daya Beli Masyarakat Jadi PerhatianDari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah turut datang dari perkembangan daya beli masyarakat.
Penjualan ritel Indonesia tercatat mengalami tekanan dengan penurunan 3 persen secara tahunan pada Juni 2026. Kondisi tersebut menunjukkan konsumen cenderung menahan pengeluaran, terutama untuk barang-barang nonpokok.
Selain itu, pelaku pasar mencermati kondisi fiskal Indonesia setelah pemerintah merilis data utang hingga semester I/2026.
Utang pemerintah pusat tercatat mencapai Rp10.293,69 triliun, dengan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 41,6 persen.
Kombinasi sentimen global dan domestik tersebut membuat pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini 13 Agustus 2026 diperkirakan masih akan berlangsung fluktuatif.
Investor akan mencermati perkembangan dolar AS, data ekonomi Amerika Serikat, serta kondisi ekonomi domestik untuk menentukan arah perdagangan rupiah selanjutnya.