Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini Rabu 2 September 2026, Ada Peluang Menguat?

Arie - Rabu, 02 September 2026 09:10 WIB
net
Ilustrasi.

digtara.com - Rekomendasi saham dan pergerakan IHSG hari ini, Rabu 2 September 2026, menjadi perhatian investor setelah indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Selasa (1/9/2026).

IHSG menguat 1,14% atau 74,46 poin ke level 6.599,94. Pergerakan indeks sepanjang perdagangan berada di zona hijau dengan level terendah 6.535 dan level tertinggi 6.608.

Penguatan IHSG turut didorong oleh kenaikan sejumlah saham berkapitalisasi besar atau big caps, seperti BBCA, BBRI, BREN, BMRI, AMMN, hingga TLKM.

Berdasarkan data IDX Mobile, sebanyak 420 saham ditutup menguat, sementara 233 saham melemah dan 310 saham lainnya stagnan.

Volume transaksi saham mencapai 50,06 miliar saham dengan nilai transaksi Rp20,07 triliun. Sementara itu, kapitalisasi pasar meningkat menjadi Rp11.531 triliun.

Saham Big Caps yang MenguatSejumlah saham big caps menjadi penopang utama penguatan IHSG pada perdagangan Selasa.

Baca Juga: Rekomendasi Saham Hari Ini Selasa 1 September 2026, IHSG Berpeluang Menguat

Saham BBCA ditutup naik 1,93% ke level Rp6.600. Kemudian BBRI menguat 4% menjadi Rp3.380 dan BREN naik 3,01% ke Rp3.420.

Sementara itu, saham BMRI naik 2,13% ke Rp4.320, AMMN menguat 0,69% ke Rp4.360, dan TLKM naik 0,38% ke Rp2.610.

Kinerja saham-saham berkapitalisasi besar tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong IHSG mendekati level 6.600.

Peluang IHSG Positif September 2026Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan peluang IHSG mencatatkan kinerja positif pada September 2026 masih lebih baik dibandingkan rata-rata historis.

Berdasarkan perhitungan Kiwoom Sekuritas, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang 6.300 hingga 6.650 selama September. Peluang IHSG mengakhiri bulan di zona hijau diperkirakan berada di kisaran 40%-45%.

"Menurut perhitungan kami, batas bawahnya di sekitar 6.300 dan batas atasnya sekitar 6.650. Peluang IHSG ditutup hijau bulan ini sebesar 40%-45%," kata Liza, Selasa (1/9/2026).

Secara historis, September memang menjadi salah satu periode yang cenderung memberikan tekanan terhadap IHSG. Dalam 10 tahun terakhir, rata-rata return IHSG pada September tercatat negatif 0,94%.

Meski demikian, koreksi pada September juga dapat menjadi peluang bagi investor untuk melakukan akumulasi saham sebelum memasuki periode yang secara historis cenderung lebih positif pada kuartal IV.

Dalam 10 tahun terakhir, peluang IHSG mencatatkan return positif mencapai 78% pada Oktober, 44% pada November, dan 78% pada Desember.

Investor Waspadai Kebijakan Bank Sentral GlobalInvestor perlu mencermati sejumlah faktor global yang dapat memengaruhi pergerakan IHSG sepanjang September 2026.

Baca Juga: Rekomendasi Saham Hari Ini 31 Agustus 2026: IHSG Berpeluang Naik, AMRT hingga INDF Jadi Pilihan

Salah satu perhatian utama adalah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang yang berpengaruh terhadap kondisi likuiditas pasar global.

Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Federal Reserve juga menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan. Menurut Kiwoom Sekuritas, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September berada di sekitar 34%, sedangkan peluang kenaikan pada Desember mencapai 74%.

Ekspektasi tersebut berbeda dengan kondisi pada awal 2026 ketika pasar lebih banyak memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga.

Jika kebijakan The Fed menjadi lebih hawkish, kenaikan yield obligasi Amerika Serikat dapat memberikan tekanan terhadap aset berisiko, termasuk pasar saham.

Selain The Fed, investor akan mencermati sejumlah agenda bank sentral sepanjang September 2026.

European Central Bank (ECB) dijadwalkan mengambil keputusan suku bunga pada 10 September. Kemudian Bank of England (BoE) pada 17 September, Bank of Japan (BoJ) pada 17-18 September, dan Bank Indonesia (BI) pada 22-23 September 2026.

Untuk kebijakan BI, Liza memperkirakan ruang penurunan suku bunga masih terbuka apabila kondisi rupiah tetap stabil.

"Kalau rupiah sudah dirasa cukup stabil, mungkin suku bunga BI bisa dipotong untuk mendukung pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Kondisi Ekonomi Indonesia Jadi PerhatianDari dalam negeri, perkembangan ekonomi Indonesia juga menjadi katalis penting bagi pasar saham.

Produk domestik bruto atau PDB Indonesia pada kuartal II/2026 tumbuh 5,29% secara tahunan. Dengan capaian tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I/2026 berada di kisaran 5,4%.

Baca Juga: IHSG Sepekan Turun 0,12% ke 6.518,12, Kapitalisasi Pasar Susut Rp18 Triliun

Namun, investor tetap perlu mencermati sejumlah indikator yang menunjukkan adanya tekanan terhadap perekonomian domestik.

Penjualan ritel pada Juni tercatat turun sekitar 3%. Selain itu, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit selama dua bulan berturut-turut.

Kondisi tersebut membuat perkembangan konsumsi domestik dan perdagangan menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam melihat prospek IHSG sepanjang September.


Perubahan Aturan Bursa Bisa Tingkatkan VolatilitasSelain faktor makroekonomi, investor juga perlu mencermati sejumlah perubahan struktural di pasar modal Indonesia.

Salah satunya adalah uji coba perubahan harga saham minimum menjadi Rp1 yang dijadwalkan berlangsung pada 7 September 2026. Perubahan tersebut juga diikuti dengan penyesuaian ketentuan auto rejection atas (ARA) dan auto rejection bawah (ARB).

Menurut Liza, perubahan tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas perdagangan, terutama pada saham dengan harga rendah atau yang selama ini dikenal sebagai saham gocap.

Investor perlu memperhatikan perubahan mekanisme tersebut karena dapat memengaruhi pola pergerakan harga sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia.

Rebalancing FTSE Russell Jadi Sentimen BerikutnyaSentimen lain yang berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG pada September adalah implementasi rebalancing FTSE Russell pada 21 September 2026.

Rebalancing tersebut berpotensi memicu perubahan aliran dana pada sejumlah saham Indonesia. Tekanan jual terutama dapat muncul dari dana indeks pasif yang menjadikan indeks FTSE Russell sebagai acuan investasi.

Baca Juga: Rekomendasi Saham Hari Ini Selasa 1 September 2026, IHSG Berpeluang Menguat

Dengan berbagai sentimen tersebut, investor disarankan mencermati pergerakan saham berkapitalisasi besar, kebijakan bank sentral global, kondisi ekonomi domestik, serta agenda rebalancing indeks.

Secara keseluruhan, IHSG masih memiliki peluang untuk mencatatkan kinerja positif pada September 2026 dengan kisaran peluang 40%-45%. Namun, investor tetap perlu mewaspadai potensi volatilitas yang berasal dari faktor global maupun perubahan di pasar modal domestik.


Tag:

Berita Terkait

Ekonomi

Rekomendasi Saham Hari Ini Selasa 1 September 2026, IHSG Berpeluang Menguat

Ekonomi

Rekomendasi Saham Hari Ini 31 Agustus 2026: IHSG Berpeluang Naik, AMRT hingga INDF Jadi Pilihan

Ekonomi

IHSG Sepekan Turun 0,12% ke 6.518,12, Kapitalisasi Pasar Susut Rp18 Triliun

Ekonomi

IHSG Hari Ini 28 Agustus 2026 Diprediksi Menguat, Simak Rekomendasi Saham DEWA, ENRG, ICBP dan PTRO

Ekonomi

Rekomendasi Saham Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026: ADRO, BUVA, DSNG, MAPA Jadi Pilihan

Ekonomi

Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini, Rabu 26 Agustus 2026