digtara.com - Nilai tukar rupiah hari ini, Kamis (3/9/2026), diperkirakan masih berada dalam tekanan. Rupiah berpotensi melemah akibat meningkatnya ketegangan geopolitik global serta menguatnya ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga Amerika Serikat.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah akan berlangsung fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Rupiah diproyeksikan berada di kisaran Rp17.760 hingga Rp17.800 per
dolar AS pada perdagangan Kamis.
"Untuk perdagangan besok [Kamis], mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.760 sampai Rp17.800 per dolar AS," ujar Ibrahim, Rabu (2/9/2026).
Rupiah Melemah pada Perdagangan SebelumnyaProyeksi tersebut melanjutkan risiko depresiasi rupiah pada awal September 2026.
Pada perdagangan Rabu (2/9/2026), rupiah ditutup melemah 0,11% atau 19 poin ke level Rp17.763 per dolar AS.
Tekanan terhadap mata uang domestik juga terjadi bersamaan dengan penguatan dolar AS. Indeks dolar AS atau DXY pada perdagangan Rabu menguat 0,06% ke level 99,73.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Rabu 2 September 2026, Diprediksi Melemah
Konflik Timur Tengah Tekan RupiahIbrahim menjelaskan bahwa pergerakan rupiah dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik.
Dari sisi eksternal, eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang membebani rupiah. Ketidakpastian geopolitik dapat mendorong investor meningkatkan permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Perkembangan terbaru juga menjadi perhatian pasar setelah militer Amerika Serikat menyatakan telah menyelesaikan gelombang serangan terbaru terhadap Iran yang menyasar Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas pasar keuangan global dan memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ekspektasi Suku Bunga The Fed MenguatSelain konflik geopolitik, investor juga mencermati arah kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed.
Ibrahim mengatakan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali menguat seiring kekhawatiran terhadap inflasi yang dapat meningkat akibat konflik geopolitik.
Retorika Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai inflasi dalam Simposium Jackson Hole turut menghidupkan kembali spekulasi mengenai kenaikan suku bunga.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed 15–16 September berada di sekitar 65%, meningkat dari sekitar 40% pada pekan sebelumnya.
Jika ekspektasi kenaikan suku bunga AS terus menguat, dolar AS berpotensi mendapatkan dukungan sehingga memberikan tekanan terhadap rupiah.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini Selasa 1 September 2026, Diprediksi Menguat Terbatas
Kebijakan Bank Indonesia Jadi PerhatianDari dalam negeri, pelaku pasar turut mencermati arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI). Kebijakan moneter BI menjadi salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi pergerakan rupiah ke depan.
Gubernur Bank Indonesia yang baru ditunjuk, Destry Damayanti, memproyeksikan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2027 berada di kisaran 5,2% hingga 6%.
Destry juga memperkirakan nilai tukar rupiah pada 2027 berada di rentang Rp17.300 hingga Rp17.800 per dolar AS.
Batas atas proyeksi tersebut berada dekat dengan kisaran pelemahan rupiah yang diperkirakan terjadi pada perdagangan hari ini.
Dengan berbagai sentimen tersebut, investor perlu mencermati pergerakan dolar AS, perkembangan konflik Timur Tengah, ekspektasi kebijakan The Fed, serta kebijakan Bank Indonesia untuk melihat arah nilai tukar rupiah sepanjang perdagangan Kamis (3/9/2026).
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Rabu 2 September 2026, Diprediksi Melemah