digtara.com - Rekomendasi saham hari ini menjadi perhatian investor setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat signifikan pada perdagangan Kamis (3/9/2026).
IHSG naik 1,09% atau 72,11 poin ke level 6.667,89. Penguatan indeks ditopang oleh sejumlah
saham berkapitalisasi besar yang mayoritas ditutup di zona hijau.
Berdasarkan data IDX Mobile, sebanyak 415 saham menguat, 228 saham melemah, dan 320 saham lainnya stagnan.
Saham Big Caps yang MenguatSejumlah saham big caps menjadi penopang utama penguatan IHSG pada perdagangan Kamis.
Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) naik 1,50% ke level Rp6.775. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) juga menguat 0,59% menjadi Rp3.410.
Sementara itu, saham PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) naik 0,47% ke Rp201.000 dan PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) menguat 0,91% menjadi Rp13.825.
Baca Juga: Rekomendasi Saham Hari Ini, Kamis 3 September 2026: IHSG Masih Berpeluang Menguat
Penguatan juga terjadi pada sejumlah
saham besar lainnya. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) naik 0,30% ke Rp3.360, sedangkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) melonjak 2,29% ke Rp4.460.
Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) menguat 3,75% ke Rp4.430. Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) naik 0,39% menjadi Rp2.600.
Kemudian, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) menguat 1,72% ke Rp1.185. Penguatan terbesar di antara sejumlah saham big caps tersebut dicatatkan PT Astra International Tbk. (ASII), yang naik 4,34% ke Rp5.050.
Risiko Eksternal Masih Membayangi IHSGSenior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta mengatakan pergerakan IHSG masih dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global.
Dari dalam negeri, kondisi inflasi Agustus 2026 yang masih berada dalam sasaran serta surplus neraca perdagangan memberikan sentimen positif bagi pasar saham.
Namun, risiko eksternal masih perlu diperhatikan investor. Eskalasi konflik AS-Iran dan ketegangan di kawasan Selat Hormuz berpotensi mempertahankan harga minyak pada level tinggi.
Kenaikan harga energi dapat kembali memicu kekhawatiran mengenai inflasi global. Kondisi tersebut berpotensi membuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
"Kondisi tersebut dapat kembali memicu kekhawatiran inflasi global dan membuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama," ujar Nafan dalam riset hariannya.
Investor juga akan mencermati data nonfarm payrolls Amerika Serikat yang dirilis pada Jumat (4/9/2026). Selain itu, data inflasi AS yang dijadwalkan keluar pekan depan juga menjadi perhatian.
Kedua data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Federal Reserve sekaligus menentukan tingkat volatilitas IHSG dalam jangka pendek.
Baca Juga: Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini Rabu 2 September 2026, Ada Peluang Menguat? JP Morgan Pasang Target IHSG 7.000Di tengah berbagai risiko tersebut, JP Morgan Sekuritas Indonesia masih melihat adanya peluang bagi
IHSG untuk melanjutkan kenaikan hingga akhir 2026.
JP Morgan memproyeksikan IHSG berada di level 7.000 pada Desember 2026. Target tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya yang berada di level 10.000 pada awal tahun.
Head of Indonesia Equity Research JP Morgan Indonesia Benny Kurniawan mengatakan pasar modal Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait suku bunga, harga minyak, serta potensi kenaikan harga pangan.
Meski demikian, JP Morgan menilai kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dapat membantu menjaga stabilitas perekonomian.
"Tim JP Morgan masih mengekspektasikan IHSG di Desember pada level 7.000," ujar Benny dalam Media Briefing JP Morgan di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Asing Sudah Banyak Melepas SahamBenny mengatakan
IHSG telah mengalami penurunan sekitar 23% sejak awal 2026. Pelemahan tersebut antara lain dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak, tingginya suku bunga, serta peningkatan imbal hasil obligasi di pasar yang lebih maju.
Kondisi tersebut membuat daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor global ikut tertekan.
Selain itu, berita terkait MSCI pada Februari 2026 disebut turut memicu equity outflow sekitar US$4 miliar hingga US$5 miliar sepanjang tahun ini.
Namun, kondisi positioning investor yang sudah relatif rendah justru dapat menjadi peluang bagi pasar apabila sentimen mulai membaik.
Menurut Benny, investor asing telah banyak melakukan penjualan. Sementara itu, sejumlah reksa dana saham di Indonesia juga memiliki posisi kas yang cukup tinggi.
Baca Juga: Rekomendasi Saham Hari Ini Selasa 1 September 2026, IHSG Berpeluang Menguat Kondisi tersebut membuat masih tersedia ruang bagi investor untuk kembali masuk ke pasar apabila momentum positif berlanjut.
El Nino Jadi Risiko bagi Harga PanganSelain suku bunga dan harga minyak, JP Morgan turut menyoroti dampak fenomena El Nino terhadap sektor pangan.
Secara historis, El Nino dapat memberikan tekanan terhadap produksi sejumlah komoditas pangan di Indonesia dan negara-negara kawasan.
Beras, gula, kopi, hingga gandum menjadi komoditas yang perlu diperhatikan. Indonesia juga merupakan salah satu negara pengimpor gandum dalam jumlah besar sehingga kenaikan harga komoditas tersebut dapat memberikan tekanan tambahan.
Di sisi lain, belanja pemerintah dinilai masih mampu mendorong pertumbuhan sejumlah sektor di pasar modal.
JP Morgan mencatat perusahaan-perusahaan sektor konsumer di Indonesia pada paruh pertama 2026 mampu mencatat pertumbuhan rata-rata dua digit.
IHSG Masih Berpeluang NaikJP Morgan masih melihat peluang penguatan IHSG hingga akhir 2026. Prospek tersebut ditopang oleh potensi membaiknya sentimen pasar serta posisi investor domestik dan asing yang dinilai sudah cukup rendah.
Baca Juga: Rekomendasi Saham Hari Ini, Kamis 3 September 2026: IHSG Masih Berpeluang Menguat
CEO and Senior Country Officer JP Morgan Indonesia Gioshia Ralie juga menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi salah satu faktor positif bagi pasar.
Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I dan kuartal II 2026 disebut lebih tinggi dari perkiraan banyak analis.
Kondisi tersebut berpotensi memberikan dorongan terhadap kepercayaan investor dan aktivitas ekonomi domestik.
Dengan IHSG yang kembali menguat ke level 6.667,89, investor dapat mencermati saham-saham big caps seperti BBCA, BBRI, BMRI, ASII, AMMN, BYAN, DCII, dan DSSA, sembari memperhatikan risiko dari konflik geopolitik, harga minyak, inflasi, serta arah kebijakan The Fed.
Target IHSG 7.000 dari JP Morgan menjadi salah satu katalis yang patut diperhatikan, meski pencapaiannya tetap akan bergantung pada perkembangan sentimen global dan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.