digtara.com - Nilai tukar rupiah diperkirakan kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat, 4 September 2026.
Penguatan rupiah melanjutkan tren positif pada perdagangan Kamis (3/9/2026). Rupiah ditutup menguat 84 poin ke level Rp17.679 per
dolar AS.
Dalam perdagangan intraday, rupiah bahkan sempat menguat hingga 105 poin.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah masih memiliki peluang melanjutkan penguatan pada perdagangan akhir pekan.
Menurutnya, sentimen positif dari dalam negeri menjadi salah satu faktor yang menopang pergerakan rupiah. Meski demikian, pasar tetap mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed).
Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif, tetapi berpotensi ditutup menguat pada kisaran Rp17.630 hingga Rp17.680 per dolar AS.
Baca Juga: Pasar Kripto Hari Ini Mulai Bergairah, Bitcoin dan Altcoin Kompak Menguat
Rupiah Berbalik MenguatPergerakan rupiah pada Kamis membaik setelah sehari sebelumnya mengalami pelemahan.
Pada perdagangan Rabu (2/9/2026), rupiah ditutup melemah 0,11% atau 19 poin ke posisi Rp17.763 per dolar AS.
Perbaikan sentimen terhadap rupiah didukung kondisi ekonomi domestik yang dinilai cukup solid serta komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Pasar juga mulai mencermati arah kebijakan Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti yang baru dilantik pada Rabu (2/9/2026).
Destry, yang menggantikan Perry Warjiyo, berkomitmen menjalankan kebijakan yang responsif dengan mempertimbangkan keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan pertumbuhan.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 juga berada di kisaran 5,2% hingga 6%.
Neraca Perdagangan Jadi Penopang RupiahSentimen positif lainnya berasal dari kinerja perdagangan Indonesia.
Neraca perdagangan nasional pada Juli 2026 masih mencatat surplus sebesar US$0,12 miliar. Pada periode tersebut, nilai ekspor Indonesia mencapai US$26,22 miliar, sedangkan impor tercatat US$26,09 miliar.
Surplus perdagangan tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat memberikan dukungan terhadap stabilitas rupiah.
Namun, ruang penguatan rupiah tetap menghadapi sejumlah tantangan. Pelaku pasar bersikap hati-hati menjelang rilis data cadangan devisa dan keyakinan konsumen pada pekan depan.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Kamis 3 September 2026: Diprediksi Melemah ke Rp17.800 per Dolar AS Tekanan inflasi juga menjadi perhatian pasar.
Inflasi Indonesia MeningkatInflasi umum Indonesia pada Agustus 2026 tercatat 0,21% secara bulanan. Angka tersebut berbalik dari deflasi 0,14% pada Juli 2026.
Secara tahunan, inflasi Agustus 2026 mencapai 3,19%, meningkat dibandingkan inflasi tahunan Juli 2026 yang berada di level 2,88%.
Kenaikan inflasi menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan investor dalam menilai arah kebijakan moneter Bank Indonesia serta prospek pergerakan rupiah.
Kebijakan The Fed Jadi PerhatianSelain faktor domestik, arah kebijakan The Fed menjadi perhatian utama pasar valuta asing.
Spekulasi mengenai kenaikan suku bunga AS pada pertemuan September kembali menguat setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan sikap yang lebih tegas terhadap inflasi dalam Simposium Jackson Hole.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 15–16 September 2026 berada di kisaran 64%.
Angka tersebut meningkat cukup signifikan dibandingkan probabilitas pada pekan sebelumnya yang berada di sekitar 36%.
Jika ekspektasi kenaikan suku bunga AS semakin kuat, dolar AS berpotensi mendapatkan dukungan dan dapat membatasi ruang penguatan rupiah.
Dengan demikian, pergerakan nilai tukar rupiah hari ini akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen domestik, kebijakan Bank Indonesia, kondisi inflasi, serta ekspektasi pasar terhadap keputusan The Fed.
Baca Juga: Pasar Kripto Hari Ini Mulai Bergairah, Bitcoin dan Altcoin Kompak Menguat