Rupiah Hari Ini Menguat ke Rp17.632 per Dolar AS, Pasar Soroti Inflasi dan Suku Bunga The Fed

Arie - Rabu, 09 September 2026 09:40 WIB
net
Ilustrasi.

digtara.com - Nilai tukar rupiah hari ini ditutup menguat terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa (8/9/2026). Rupiah menguat 8 poin atau 0,05% ke level Rp17.632 per dolar AS.

Penguatan rupiah terjadi bersamaan dengan pergerakan sejumlah mata uang Asia yang bervariasi terhadap dolar AS.

Mata uang yen Jepang menguat 0,22%, sedangkan dolar Hong Kong melemah 0,02% dan dolar Singapura turun 0,02%.

Sementara itu, dolar Taiwan menguat 0,10% dan won Korea naik 0,06%. Yuan China melemah 0,02%, ringgit Malaysia turun 0,29%, sedangkan baht Thailand melemah 0,26% terhadap dolar AS.

Geopolitik Timur Tengah Jadi Perhatian Pasar

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan perhatian pelaku pasar masih tertuju pada perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah.

Ketidakpastian geopolitik menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi sentimen pasar keuangan dan pergerakan nilai tukar, termasuk rupiah.

Baca Juga: Rupiah Hari Ini Diproyeksi Melemah ke Rp17.680 per Dolar AS, Ini Sentimennya

Selain perkembangan geopolitik, pasar juga menantikan sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter The Federal Reserve.

Data PPI dan CPI AS Jadi Fokus Investor

Data Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat dijadwalkan dirilis pada Kamis, 10 September 2026.

Selanjutnya, pasar akan mencermati data Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS yang dijadwalkan dirilis pada Jumat, 11 September 2026.

Menurut Ibrahim, data inflasi akan menjadi salah satu penentu ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed.

"Angka inflasi yang lebih tinggi akan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed," kata Ibrahim, Selasa (8/9/2026).

Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Masih Diperhitungkan

Ibrahim melanjutkan bahwa pasar masih memperhitungkan peluang sekitar 60% terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada pekan depan.

Ekspektasi tersebut turut mencerminkan dampak dari laporan nonfarm payrolls Amerika Serikat yang kuat pada pekan sebelumnya.

Karena itu, hasil data inflasi AS akan menjadi perhatian penting bagi pasar karena dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter dan pergerakan dolar AS.

Cadangan Devisa Indonesia Naik Jadi US$146,5 Miliar

Dari dalam negeri, Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa Indonesia mencapai US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.

Posisi tersebut meningkat dibandingkan cadangan devisa pada akhir Juli 2026 yang mencapai US$145,3 miliar.

Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Jumat 4 September 2026: Diprediksi Menguat ke Rp17.630

Bank Indonesia menjelaskan kenaikan cadangan devisa terutama dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Kebijakan stabilisasi tersebut dilakukan BI sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.


Proyeksi Rupiah Besok

Untuk perdagangan berikutnya, Ibrahim memperkirakan rupiah berpotensi kembali melemah.

Rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp17.630 hingga Rp17.670 per dolar AS.

Pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik global, data ekonomi Amerika Serikat, serta ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed.


Tag:

Berita Terkait

Ekonomi

Rupiah Hari Ini Diproyeksi Melemah ke Rp17.680 per Dolar AS, Ini Sentimennya

Ekonomi

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Jumat 4 September 2026: Diprediksi Menguat ke Rp17.630

Ekonomi

Pasar Kripto Hari Ini Mulai Bergairah, Bitcoin dan Altcoin Kompak Menguat

Ekonomi

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Kamis 3 September 2026: Diprediksi Melemah ke Rp17.800 per Dolar AS

Ekonomi

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Rabu 2 September 2026, Diprediksi Melemah

Ekonomi

Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini Selasa 1 September 2026, Diprediksi Menguat Terbatas