digtara.com - Rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (15/9/2026). Nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.660-Rp17.710 per dolar AS.
Berdasarkan data TradingView, rupiah pada perdagangan Senin (14/9/2026) ditutup melemah 0,33 persen ke level Rp17.669 per
dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan mayoritas mata uang Asia. Baht Thailand turun 0,56 persen, ringgit Malaysia melemah 0,14 persen, dan rupee India turun 0,12 persen.
Peso Filipina juga terkoreksi 0,24 persen, dolar Taiwan turun 0,42 persen, won Korea melemah 0,33 persen, dolar Singapura turun 0,28 persen, serta yen Jepang melemah 0,49 persen.
Sementara itu, yuan China menjadi satu-satunya mata uang Asia yang tercatat menguat tipis.
Ketegangan Iran-AS Tekan RupiahDirektur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap rupiah salah satunya dipicu ketegangan antara Iran dan AS yang belum mereda.
Baca Juga: Rupiah Hari Ini Diprediksi Melemah ke Rp17.650 per Dolar AS, Ini Sentimennya
Kondisi tersebut turut mengganggu jalur pasokan minyak penting di kawasan Timur Tengah. Situasi semakin menjadi perhatian setelah Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi menyatakan pertemuan regional antara Iran dan negara-negara Teluk ditunda.
Padahal, rencana pertemuan yang sebelumnya dijadwalkan pada Senin sempat membantu meredam kenaikan harga minyak pada pekan lalu.
"Namun, dengan ditundanya pertemuan tersebut tanpa batas waktu yang jelas, Selat Hormuz kemungkinan akan tetap menjadi wilayah yang diperebutkan dalam waktu dekat. Pasokan minyak melalui jalur tersebut telah menyusut drastis hingga jauh di bawah tingkat sebelum perang menyusul memanasnya kembali ketegangan antara AS dan Iran pada bulan Agustus," kata Ibrahim dalam keterangan resmi, Senin (14/9/2026).
Data Inflasi AS Jadi Perhatian PasarDari Amerika Serikat, data inflasi Agustus menunjukkan indeks harga konsumen (IHK) inti meningkat 0,3 persen secara bulanan.
Menurut Ibrahim, data tersebut turut memperkuat ekspektasi pasar terhadap keputusan suku bunga Federal Reserve atau The Fed pada pertemuan pekan ini.
Ibrahim menyebut sebanyak 88 persen pasar memperkirakan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga pada September 2026.
"Kenaikan suku bunga juga dapat memicu ketegangan politik bagi The Fed. Presiden Donald Trump kembali menyerukan penurunan suku bunga pada hari Minggu, melanjutkan kritik terbarunya terhadap sikap kebijakan bank sentral tersebut," ujarnya.
Perkembangan kebijakan The Fed menjadi salah satu faktor penting bagi pergerakan dolar AS dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Efisiensi Anggaran MBG Jadi PerhatianDari dalam negeri, pemerintah dinilai masih memiliki ruang untuk melakukan efisiensi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) demi menjaga defisit APBN tetap di bawah 3 persen.
Namun, upaya mempertahankan defisit di bawah batas tersebut dinilai membutuhkan koreksi belanja yang cukup dalam.
Baca Juga: Rupiah Hari Ini Diprediksi Melemah, Cek Proyeksi Kurs ke Rp17.590 per Dolar AS Ibrahim mengatakan pemerintah perlu memastikan efektivitas belanja tetap terjaga. Jika ruang efisiensi di Badan Gizi Nasional (BGN) masih tersedia, pemangkasan anggaran dinilai masih dapat dilakukan.
"Efisiensi dapat dilakukan dengan memangkas pemborosan operasional, biaya dapur yang tidak efisien, logistik, maupun cakupan program yang terlalu longgar. Dengan demikian, penghematan anggaran tidak harus mengorbankan tujuan utama program MBG," tegasnya.
Proyeksi Rupiah Hari IniDengan mempertimbangkan sentimen global dan domestik tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Selasa (15/9/2026) akan bergerak fluktuatif dan cenderung melemah.
Rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp17.660-Rp17.710 per
dolar AS.