digtara.com -Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Jumat (18/9/2026). Secara teknikal, IHSG berpotensi menguji level 6.541 hingga 6.581.
Sejumlah
saham juga masuk dalam radar rekomendasi analis untuk perdagangan hari ini, di antaranya ADMR, BMRI, BRPT, dan DSSA.
IHSG Berpeluang MenguatTim Analis MNC Sekuritas mencatat IHSG menguat tipis 0,40 persen ke level 6.462 pada perdagangan Kamis (17/9/2026). Penguatan tersebut turut disertai dengan peningkatan volume pembelian.
Meski demikian, pergerakan IHSG masih belum mampu menembus moving average (MA) 20. Kondisi tersebut membuat investor masih perlu mencermati sejumlah level teknikal penting.
"Secara teknikal, dalam skenario terburuk, IHSG diperkirakan masih berada pada bagian dari wave iv dari wave (c) pada label hitam, sehingga masih rawan menguji kembali area 6.290–6.370," kata MNC Sekuritas dalam riset harian, Jumat (18/9/2026).
MNC Sekuritas menyebut IHSG masih memiliki peluang menguat selama mampu mempertahankan posisi di atas level 6.370. Jika level tersebut bertahan, IHSG berpotensi bergerak menuju area 6.541–6.581.
Baca Juga: IHSG Hari Ini Berpeluang Menguat ke 6.581, Simak Rekomendasi AMMN hingga PGEO
Untuk perdagangan Jumat,
MNC Sekuritas memperkirakan level support
IHSG berada di 6.279 dan 6.201. Sementara itu, level resistance berada di 6.585 dan 6.633.
Rekomendasi Saham Hari IniSeiring dengan proyeksi pergerakan IHSG, MNC Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham untuk dicermati investor pada perdagangan hari ini.
Empat saham yang masuk dalam radar rekomendasi tersebut adalah ADMR, BMRI, BRPT, dan DSSA.
Pergerakan masing-masing saham tetap perlu dicermati bersama kondisi pasar secara keseluruhan, terutama perkembangan IHSG dan sentimen global.
Dampak Kenaikan Suku Bunga The FedSelain faktor teknikal, pasar saham Indonesia juga mencermati dampak kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed).
Pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) 15–16 September 2026, The Fed menaikkan suku bunga acuan AS sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75–4,00 persen.
Kenaikan tersebut menjadi yang pertama sejak 2023 dan menandai perubahan arah kebijakan The Fed yang lebih hawkish.
Investment Specialist Syailendra Capital Adrian Polisar mengatakan dampak kenaikan suku bunga AS terhadap pasar Indonesia cenderung terbatas. Hal itu terlihat dari kenaikan yield US Treasury (UST) yang tidak diikuti peningkatan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun dalam besaran yang sama.
Selain itu, nilai tukar rupiah dinilai masih relatif stabil. Kondisi tersebut menunjukkan kenaikan yield obligasi AS lebih banyak dipengaruhi sentimen domestik Amerika Serikat.
Namun, dampak terhadap Indonesia tetap bergantung pada kemungkinan risiko kenaikan yield AS berkembang menjadi sentimen risk-off global.
Baca Juga: Rupiah Hari Ini Diprediksi Melemah ke Rp17.750 per Dolar AS, Ini Sentimennya "Jika tekanan di pasar AS semakin besar, risiko pelemahan
rupiah dan kenaikan risk premium EM akan meningkat. Namun, respons dan timing kebijakan The Fed akan menjadi faktor penting dalam menentukan seberapa besar dampak terhadap pasar Indonesia," kata Adrian dalam riset hariannya, Kamis (17/9/2026).
Arah Kebijakan The Fed Jadi Perhatian InvestorSenior Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta mengatakan kenaikan suku bunga sebesar 25 bps telah diprediksi oleh pasar.
Karena itu, arah IHSG selanjutnya tidak hanya ditentukan oleh keputusan kenaikan suku bunga tersebut, tetapi juga oleh prospek kebijakan The Fed ke depan.
"Bagi IHSG, kenaikan 25 bps tersebut sebenarnya sudah priced-in, sehingga faktor penentu pada 17 September bukan lagi keputusan kenaikannya, melainkan forward guidance Kevin Warsh dan proyeksi suku bunga berikutnya," ujar Nafan dalam riset harian, Kamis (17/9/2026).
Sementara itu, Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan perhatian pasar selanjutnya akan bergeser dari keputusan suku bunga menuju arah kebijakan atau guidance The Fed.
Menurut Reza, kombinasi kenaikan yield UST, penguatan dolar AS, dan harga minyak yang tinggi dapat meningkatkan tekanan terhadap aset pasar berkembang, termasuk Indonesia.
"Perhatian pasar domestik selanjutnya akan tertuju pada dampaknya terhadap rupiah, foreign flow, dan ruang kebijakan BI, sekaligus implementasi kebijakan awal Menteri Keuangan Suahasil Nazara," jelas Reza.
Risiko Rupiah dan
IHSGInvestment Analyst Lead Stockbit Edi Chandren dan Investment Analyst Bibit Idris Aryo menilai kenaikan indeks dolar AS atau DXY masih menyimpan risiko terhadap nilai tukar
rupiah.
Penguatan DXY berpotensi memberikan tekanan terhadap
rupiah dan pada akhirnya membebani pergerakan
IHSG. Meski demikian, tekanan terhadap indeks dinilai berpotensi terbatas karena kenaikan suku bunga The Fed sebelumnya telah diantisipasi oleh pasar.
"Kami menilai kenaikan DXY berpotensi menekan nilai tukar rupiah, sehingga dapat membebani IHSG. Namun, mengingat bahwa multiple rate hikes sudah diekspektasikan sebelumnya, tekanan pada IHSG bisa saja relatif terbatas," kata mereka, Kamis (17/9/2026).
Dengan demikian, pergerakan IHSG hari ini akan dipengaruhi oleh kombinasi faktor teknikal di dalam negeri serta perkembangan kebijakan The Fed, pergerakan rupiah, yield obligasi AS, dan sentimen pasar global.
Disclaimer: Artikel ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Setiap keputusan investasi memiliki risiko, termasuk potensi kerugian.
Baca Juga: IHSG Hari Ini Berpeluang Menguat ke 6.581, Simak Rekomendasi AMMN hingga PGEO