digtara.com -Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (28/9/2026).
Rupiah ditutup di level Rp17.978 per
dolar AS, melemah 75 poin atau 0,42 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya yang berada di Rp17.903 per
dolar AS.
Pelemahan juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. JISDOR berada di level Rp17.965 per dolar AS, turun dari posisi sebelumnya Rp17.917 per dolar AS.
Konflik Iran-AS Tekan RupiahAnalis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, mengatakan salah satu sentimen yang menekan rupiah berasal dari perkembangan konflik Iran dan AS.
"Situasi Selat Hormuz memanas, setelah delapan anggota Korps Marinir Amerika Serikat (AS) terluka setelah sebuah rudal jelajah antikapal Iran menghantam kapal yang mereka operasikan di Selat Hormuz," ujar Ibrahim, dikutip dari Antara.
Menurut Ibrahim, Iran disebut masih mempertahankan sejumlah persyaratan untuk membuka kembali Selat Hormuz meskipun proposal tersebut telah ditolak Presiden AS Donald Trump.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 28 September 2026 Melemah ke Rp17.978 per Dolar AS
Usulan Iran mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari sambil melanjutkan negosiasi yang lebih luas.
Sejumlah syarat yang disebutkan antara lain Washington mencabut blokade angkatan laut, mengurangi tekanan militer, menghapus sanksi terhadap penjualan minyak Iran, serta menyetujui gencatan senjata.
Iran menyatakan tetap mempertahankan persyaratan tersebut meskipun Trump menolaknya.
Pasar Menanti Data Ekonomi ASSelain perkembangan geopolitik, pasar keuangan juga menunggu sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis sepanjang pekan ini.
Data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dijadwalkan dirilis pada Rabu (30/9/2026).
Selanjutnya, data ISM Manufacturing Purchasing Managers' Index (PMI) akan dirilis pada Kamis (1/10/2026). Sementara laporan ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls (NFP) dijadwalkan pada Jumat (2/10/2026).
Serangkaian data tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed.
"Rilis data-data tersebut dapat memainkan peran penting dalam membentuk ekspektasi pasar menjelang pertemuan The Fed bulan depan," ujar Ibrahim.
Prospek Rupiah pada Perdagangan BerikutnyaPergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan konflik Iran-AS serta respons pasar terhadap sejumlah data ekonomi Amerika Serikat.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar akan mencermati data PCE, ISM Manufacturing PMI, dan NFP untuk melihat indikasi mengenai kondisi ekonomi AS serta kemungkinan arah kebijakan The Fed.
Dengan demikian, sentimen eksternal masih menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan selanjutnya.