digtara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Jumat (2/10/2026). Sejumlah analis melihat indeks berpotensi melanjutkan koreksi menuju area 5.850–5.911, sementara beberapa saham seperti ASII, ARCI, BMRI, hingga BULL masuk dalam radar perdagangan.
Tim Analis
MNC Sekuritas mencatat
IHSG melemah 1,02% ke level 6.009 pada perdagangan Kamis (1/10/2026). Koreksi tersebut masih disertai tekanan jual setelah indeks menembus area 6.013.
MNC Sekuritas memperkirakan posisi IHSG saat ini berada pada bagian wave c dari wave (y).
"Cermati area koreksi yang dapat kami perkirakan di rentang 5.850–5.911," tulis MNC Sekuritas dalam riset hariannya, Jumat (2/10/2026).
Untuk perdagangan kali ini, MNC Sekuritas memperkirakan level support IHSG berada di 5.949 dan 5.872. Sementara itu, area resistance berada pada level 6.187 dan 6.297.
Adapun saham yang masuk rekomendasi analis antara lain PT Astra International Tbk. (ASII), PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT Buana Lintas Lautan Tbk. (BULL).
Baca Juga: IHSG Hari Ini 1 Oktober 2026: GOTO, MEDC, hingga CUAN Kembali Melemah
Tekanan Asing dan Sentimen Reshuffle KabinetSenior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta mengatakan pelemahan
IHSG dipengaruhi oleh kombinasi sentimen domestik dan eksternal.
Dari dalam negeri, pasar masih mencermati perkembangan reshuffle kabinet yang memunculkan perhatian investor terhadap arah kebijakan pemerintah ke depan.
Selain itu, tekanan jual investor asing menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan IHSG. Pada perdagangan sebelumnya, net sell asing di pasar reguler tercatat sekitar Rp1,56 triliun.
"Dari sisi domestik, pasar merespons perkembangan reshuffle kabinet yang kembali memunculkan ketidakpastian terkait arah kebijakan pemerintah ke depan," ujar Nafan, Kamis (1/10/2026).
Dari sisi global, investor masih memperhatikan tingginya imbal hasil US Treasury, tekanan terhadap rupiah, serta ketidakpastian geopolitik yang membatasi minat terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang.
Kondisi tersebut membuat investor cenderung lebih selektif dan defensif dengan melakukan penyesuaian portofolio, terutama terhadap
saham berkapitalisasi besar yang sensitif terhadap arus modal asing.
Pasar Menunggu Kepastian Kebijakan PemerintahMenurut Nafan, dampak reshuffle kabinet terhadap pasar saham akan sangat bergantung pada persepsi investor terhadap figur yang ditunjuk serta keberlanjutan kebijakan ekonomi.
"Dalam jangka pendek, reshuffle dapat meningkatkan volatilitas karena pasar perlu menilai kembali arah kebijakan, koordinasi antarkementerian, serta implikasinya terhadap program fiskal dan ekonomi," katanya.
Namun, apabila perubahan kabinet dinilai mampu memperkuat efektivitas pemerintahan, menjaga kesinambungan kebijakan, serta memberikan kepastian terhadap agenda reformasi dan investasi, sentimen pasar dapat berubah lebih positif dalam jangka menengah.
Dengan kondisi tersebut, pasar dinilai masih membutuhkan kejelasan kebijakan atau policy clarity dibandingkan sekadar perubahan komposisi kabinet.
Baca Juga: IHSG Hari Ini 29 September 2026 Melemah 0,43%, GOTO dan AADI Jadi Beban IHSG Diproyeksikan Bergerak VolatilDalam jangka menengah, sejumlah faktor yang perlu diperhatikan investor mencakup stabilisasi rupiah, arah yield US Treasury, kebijakan Bank Indonesia (BI), arus modal asing, hingga perkembangan data ekonomi domestik.
Nafan memperkirakan IHSG masih berpotensi bergerak volatil dan cenderung konsolidatif sebelum membentuk tren pemulihan yang lebih kuat.
Area 6.019 menjadi level support penting, dengan support berikutnya berada di 5.854. Sementara itu, area 6.185–6.240 menjadi resistance yang perlu dilewati untuk mengonfirmasi peluang rebound teknikal.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Segala risiko maupun keuntungan dari keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing investor.