digtara.com - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (2/10/2026). Rupiah diproyeksikan bergerak dalam kisaran Rp17.900-Rp18.050 per dolar AS.
Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures, rupiah ditutup melemah 72 poin atau 0,40% ke level Rp17.966 per
dolar AS pada perdagangan Kamis (1/10/2026).
Pelemahan rupiah tersebut sejalan dengan tekanan yang terjadi pada mayoritas mata uang kawasan Asia.
Mayoritas Mata Uang Asia MelemahYen Jepang menjadi mata uang kawasan yang mengalami pelemahan paling dalam terhadap dolar AS, yakni sebesar 0,60%.
Selanjutnya, dolar Taiwan melemah 0,51%, rupee India turun 0,35%, baht Thailand melemah 0,34%, dan won Korea Selatan terkoreksi 0,31%.
Dolar Singapura juga melemah 0,24%, disusul peso Filipina yang turun 0,23% dan ringgit Malaysia sebesar 0,13%.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 1 Oktober 2026 Diproyeksi Rp17.850-Rp18.000 per Dolar AS
Di tengah tekanan mayoritas mata uang Asia, yuan China justru mampu menguat tipis 0,02% terhadap
dolar AS. Sementara itu, dolar Hong Kong bergerak relatif stagnan.
Dolar AS dan Yield US Treasury Tekan RupiahAnalis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi pemerintah AS atau US Treasury.
Dari dalam negeri, sejumlah data makroekonomi positif belum mampu memberikan dorongan yang cukup kuat bagi rupiah untuk menahan penguatan dolar AS.
Data perdagangan Indonesia tercatat lebih kuat dari perkiraan. Selain itu, tingkat inflasi juga berada di bawah ekspektasi. Namun, kedua sentimen tersebut belum banyak membantu pergerakan rupiah.
"Sentimen risk off di pasar domestik yang cukup kuat ikut membebani rupiah, menyusul respons negatif investor terhadap isu reshuffle kabinet," ujar Lukman, Kamis (1/10/2026).
Rupiah Masih Dibayangi Sentimen GlobalUntuk perdagangan selanjutnya, rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan, kecuali Bank Indonesia (BI) kembali meningkatkan intensitas intervensinya di pasar valuta asing.
Pelaku pasar juga mencermati sejumlah agenda ekonomi Amerika Serikat, termasuk rilis data manufaktur PMI ISM AS dan potensi pernyataan hawkish dari sejumlah pejabat Federal Reserve atau The Fed.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter AS dan pergerakan dolar.
"Rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp17.900-Rp18.050 per dolar AS pada perdagangan Jumat [2/10]," kata Lukman.